Archive for July, 2008
Blog Readability Test
Dapet info dari selytherin tentang Blog Readability Test, untuk mengetahui seberapa tingginya level kecerdasan yang dibutuhkan oleh pembaca agar mampu memahami isi suatu blog. Ah iseng2 aku masukin alamat URL blogku. Nah ini dia hasilnya :
WeW…
Namun sayang, aku ga nemuin informasi mengenai parameter-parameter apa aja yang di-retrieve dari suatu blog untuk melakukan kalkulasi tersebut
Bisa jadi yang dimaksud Genius oleh si pembuat test tersebut merupakan parameter untuk orang paling bodoh sedunia, haha…
Just play a fool. (Lagi BT).
Coba aj deh masukin alamat URL blog temen2 di sana…hehe
11 comments July 23, 2008
Main-Main Tanggal Lahir di Kalkulator
Teman2, coba sekarang keluarin kalkulatornya. * Bagi yang merasa ngitungny cepet sih ga usah juga ga apa2, he3 *. Udah siap?? Klo udah, ikutin langkah-langkah di bawah ini.
1. Pencet angka tanggal lahir anda
2. kalikan(x) dengan 4
3. Jumlahkan (+) dengan 13
4 Kalikan (x) dengan 25
5. Kurangkan (-) dengan 200
6. Jumlahkan(+) dengan bulan kelahiran anda (januari=1, Februari =2,.., Desember = 12)
7. Kalikan(x) dengan 2
8. Kurangi (-) dengan 40
9. Kalikan (x) dengan 50
10. Jumlahkan (+) dengan 2 digit tahun kelahiran anda
Pastikan langkah-langkah diatas dah bener. Terakhir, kurangi (-) dengan 10500. Jangan lupa tekan tombol ’sama dengan’, hehe…
Hasilnya? simsalabim… ‘xxyyzz’.. ketahuan deh hari kelahirannya !
Seperti biasa, pertanyaannya, mengapa ini bisa bekerja? Silakan dibuktikan sendiri. Itung-itung buat ’sarapan otak’ dulu di pagi-pagi yang lumayan dingin ini.
Selamat pagi semua ! Semoga te2p sehat selalu !
19 comments July 18, 2008
Pulsa Paling Sedikit di Dunia
Waktu ngecek nominal pulsa hp, ternyata aku masih ada pulsa. Tapi pulsaku sedikit banget. Mungkin kalo ada perlombaan pulsa paling sedikit di dunia yang pernah dimiliki seseorang, aku lah pemenangnya, hehe..
Coba liat ini.
Ada yang pernah punya pulsa lebih sedikit dari ini ga?? masih harus di atas angka 0 tentunya, hihihi,
6 comments July 18, 2008
Ga ramah….. huh sebel…
Kalau mo membanding-bandingan, pengalamanku ketika berhadapan dengan orang-orang di beberapa institusi pemerintahan, pelayanan yang disuguhkan sungguh kurang ramah dibandingkan dengan institusi swasta, termasuk di kampusku sendiri. Sebel deh… Trus, senin kemarin waktu membeli tiket di loket stasiun kereta api Bandung, seorang mba’-mba’ sedikit pun sama sekali ga tersenyum (cantik-cantik koq jutek).. Padahal aku dah berusaha masang tampang senyum dengan mba’ itu. Tambah sebel lagi deh..Tinggal senyum aja apa susahnya sih ya?
Bukan hanya di loket stasiun kereta. Di maskapai penerbangan-lah, di bank-lah, di kantor pos-lah, di loket jalur Busway-lah, di PLN-lah, pokoknya hampir sebagian besar organisasi/perusahaan yang dikelola pemerintah yang pernah aku temui memang bener2 membuat klien sebel. Coba bandingkan dengan servis dari institusi-institusi swasta…
Ada apa ini semua?? Hmm, aku memamklumi siy. Memang, duit yang didapatkan dari institusi pemerintahan memang ga seberapa dibandingkan institusi swasta. Lagian kalo di institusi pemerintahan, mereka merasa bahwa kita yang butuh mereka, sedangkan kalo di institusi swasta, mereka merasa bahwa merekalah yang membutuhkan kita. Tapi apa memang keramahan itu ditentuin oleh faktor-faktor tersebut? Apa memang kalo seseorang merasa ga dapet duit banyak alias kurang sejahtera artinya ga boleh ramah dengan orang lain? Apa memang ada aturan kalo pegawai-pegawai pemerintahan dilarang ramah? Apa memang ramah itu cuma ditunjukkan kalau kita merasa butuh dengan klien, kayak di instansi swasta? Artinya minta pamrih donk? Atau jangan-jangan budaya ‘ga ramah’ di lingkungan pemerintahan ini merupakan efek samping akibat ‘permainan kotor berjamaah’ ala pejabat pemerintah? Ah, udah ah, pusing mikirinnya. Setahuku, ketidakramahan seseorang tuh dipengaruhi oleh tingkat stress yang tinggi. Artinya, orang-orang diinstansi pemerintahan sekarang dah pada stress semua (bukan bermaksud menggeneralisasi). Udah stress, ditambah ga ramah, malah tambah stress deh.
Apa susahnya untuk bersikap ramah? Padahal dengan tersenyum sedikit aja, seseorang dah bisa dibilang ramah. Bukannya kalo senyum itu ibadah? Bukannya ramah itu menambah kebahagiaan kita? Huh, sebel…’n sekaligus prihatin.
Sekali lagi, tulisan ini bukan bermaksud untuk menggeneralisasi permasalahan. Cuma sekadar melampiaskan ke-‘sebel’-an di hati aja. Masih ada juga koq mas mas, mba’ mba’, ibu ibu, bapak bapak di institusi pemerintahan yang masih ramah, di tengah-tengah kacaunya dunia pemerintahan. Makasih banget atas keramahannya. Semoga Tuhan membalas ibadahnya.
13 comments July 15, 2008
Cek Keterbagian Suatu Bilangan dengan 2^n, 3, 9, dan 11
Keterbagian 2,4, dan 8
Apakah bilangan 34 habis dibagi dengan bilangan : 2,4, dan 8? Selama ini, cara yang lazim digunakan adalah sebagai berikut.
34/2 = 17, sisa = 0
34/4 = 8, sisa = 2
34/8 = 4, sisa = 2
Jika sisa=0, berarti bilangan tersebut habis dibagi. Jika sisa != 0, berarti bilangan tersebut tidak habis dibagi. Nah, sekarang cek apakah bilangan 173332 habis dibagi dengan :2, 4, dan 8? Sama aja caranya. Namun butuh waktu lebih banyak untuk menyelesaikannya. (atau biar cepet pake kalkulator aj.) Gimana kalo bilangannya semakin besar? Jutaan, Milyaran, Triliunan? Dan ga pake kalkulator?
Ada cara yang lebih gampang untuk mengecek keterbagian suatu bilangan dengan bilangan 2,4, 8, atau bentuk umumnya 2^n. Kaidah yang digunakan adalah sebagai berikut.
A1. Untuk n = 1, berarti suatu bilangan habis dibagi 2 jika angka terakhir dari bilangan tersebut habis dibagi
A2. Untuk n = 2, berarti suatu bilangan habis dibagi 4 jika 2 bilangan terakhir dari bilangan tersebut habis dibagi 4.
A3. Untuk n = 3, berarti suatu bilangan habis dibagi 8 jika 3 bilangan terakhir dari bilangan tersebut habis dibagi 8.
dst..
Bentuk umum dari kaidah2 tersebut adalah :
Suatu bilangan habis dibagi 2^n jika n bilangan terakhir dari bilangan tersebut habis dibagi 2^n.
Dengan kaidah2 tersebut, kita dapat mengecek keterbagian 173332 dengan 2,4, atau 8 secara mudah.
- Pembagian dengan 2
Angka terakhir dari 173332 adalah 2. Karena 2 habis dibagi 2, maka 173332 juga habis dibagi 2.
- Pembagian dengan 4
2 bilangan terakhir dari 173332 adalah 32. Karena 32 habis dibagi 4, maka 173332 juga habis dibagi 4.
- Pembagian dengan 8
3 bilangan terakhir dari 173332 adalah 332. Karena 332 tidak habis dibagi 8, maka 173332 juga tidak habis dibagi 8.
Jadi gampang kan?
Sekarang pertanyaannya, mengapa kaidah ini bisa bekerja? Ini dia salah satu buktinya.
Bukti kaidah A2.
Misalkan bilangan itu :
Karena bilangan pasti habis dibagi 4, agar a habis dibagi 4 maka haruslah habis dibagi 4 juga.
Karena bilangan
pasti habis dibagi 4, agar a habis dibagi 4 maka haruslah habis dibagi 4 juga.
Coba berikan bukti untuk kaidah A1 dan A3, atau untuk n>3
Dengan kaidah tersebut, mengecek keterbagian bilangan 182978249583748932478832296 dengan 2, 4, atau 8 jadi ga sulit lagi
Keterbagian 3,9, dan 11
Untuk keterbagian suatu bilangan 3, 9, dan 11, kaidah yang dapat digunakan adalah sebagai berikut.
Misalkan bilangan yang akan dibagi adalah
B1. Bilangan a habis dibagi 3 jika jumlah angka-angkanya (
habis dibagi 3.
B2. Bilangan a habis dibagi 9 jika jumlah angka-angkanya (habis dibagi 9.
B3. Bilangan a habis dibagi 11 jika jumlah-silang tanda-ganti angka-angkanya (habis dibagi 11.
Ini dia bukti dari kaidah B1 dan B2
dapat dipilah menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah jumlah semua suku yang merupakan kelipatan 9 yang dilambangkan dengan dan bagian kedua dengan jumlah angka-angka :
Karena
habis dibagi 3 atau 9, agar habis dibagi 3 atau 9, maka
haruslah habis dibagi 3 atau 9 pula.
(Yang B3 sampe sekarang aku belum nemu buktinya
Tolong cariin donk! )
Coba kita cek bilangan 81809525853 apakah habis dibagi 3, 9 , atau 11
Jumlah angka-angka dari 81809525853 adalah 8+1+8+0+9+5+2+5+8+5+3 = 54.
Karena 54 habis dibagi 3, maka 81809525853 juga habis dibagi 3
Karena 54 habis dibagi 9, maka 81809525853 juga habis dibagi 9
Jumlah-silang tanda-ganti dari 81809525853 adalah 8-1+8-0+9-5+2-5+8-5+3 = 22.
Karena 22 habis dibagi 11, maka 81809525853 juga habis dibagi dengan 11.
(Wew keren. Ternyata nomor hpku habis dibagi 3, 9 dan 11 yah?hihi3..)
20 comments July 11, 2008
Nama Aslinya Nyamuk
Selama ini nama ‘nyamuk’ yang disematkan pada salah satu jenis binatang penghisap darah itu merupakan nama samaran.
Jadi, siapa nama aslinya nyamuk? (bagi yang dah tau, ssst, diem!)
Nama aslinya Tatang. Coba aja dengerin lagu Cicak-Cicak di Dinding. “…..Tatang seekor nyamuk…,haaap”
15 comments July 10, 2008
Nambah2 halaman baru
Biar ga bosen dengan blog, aku nambah2in 2 halaman ga penting di blog ini yang tulisannya selama bertahun-tahun nginep di draft
yaitu halaman Me & My Home dan halaman CV.
3 comments July 9, 2008
Takut Mati
Di suatu hari pernah aku ditanya oleh seorang sahabat yang bijak -semoga Tuhan membalas semua amal perbuatan mulianya, “Far, loe takut mati ga?” Akupun menjawab, “Gw lagi belajar biar ga takut mati bro…, tapi sulit bgt”. Trus dia bertanya lagi, “Kira2 loe takut mati karena apa? Takut ninggalin dunia yang loe cintai ini, takut dengan proses kematiannya, atau takut dengan kehidupan sesudah mati?”
Dan aku pun langsung termenung, terdiam seribu bahasa ga mampu ngejawab pertanyaannya. Karena hati ini masih dilanda rasa takut yang luar biasa akan mati, akibat dengan kecintaan yang berlebihan dengan dunia yang fana ini. Mampukah suatu saat nanti aku bisa memutuskan hubungan percintaan dengan dunia ini? Semoga saja….
9 comments July 6, 2008
Kenapa ada masa lalu yang begitu indah?
Dahulu, di suatu malam –dan aku ga akan pernah melupakan malam itu, tibalah sesuatu yang mungkin menjadi salah satu hal yang terindah sepanjang hidupku. Di malam itu, hati ini telah diserang oleh sebuah kejutan yang mungkin menjadi kejutan terbesar sepanjang hayatku. Tidak disangka memang. Padahal sebelumnya tidak pernah terlintas di dalam hatiku sebesar zarrah pun untuk memakan serangan itu. Awalnya menyesal memang, karena membuat hati ini melanggar prinsip yang telah menjadi tonggak yang kokoh dalam jiwaku. Ya, artinya tonggak itu belum sepenuhnya kokoh. Tapi tak apalah, tak perlu disesalkan. Karena dengan ‘pembelotan’ itu, akupun mengenal sesuatu yang membuat aku mengubah hatiku. Hmm, bukan, bukan. Bukan aku. Melainkan Sang Pemilik Hati-lah yang telah mengubahnya.
Setelah serangan itu, hari-hariku pun menjadi begitu indah. Sujud syukur kehadirat-Nya yang membuat aku telah memakan serangan itu. Jiwa ini serasa memberontak dengan riangnya laksana atom-atom yang sedang dipanaskan. Tapi, apakah ini yang benar-benar disebut kebahagiaan sesungguhnya? Kebahagiaan yang membuat hal-hal yang biasa tampak luar biasa? Kebahagiaan yang menjadikan hal-hal yang buruk tampak menjadi indah di mata? Kebahagiaan yang melalaikan aku dari Sumber Segala Kebahagiaan?
Dan kebahagiaan itupun hilang. Tidak akan pernah lagi ada malam itu. Malam yang membuat aku melakukan ritual untuk mengingatnya setiap bulan. Malam yang menghabiskan waktuku untuk menikmati fatamorgana. Seringkali hatiku menangis perih melewati malam itu ketiga tubuhku terbangun di pagi harinya dan menyadari bahwa aku tidak lagi memiliki malam itu. Aku pun jatuh terpuruk ke dasar yang paling bawah. Perginya serangan kebahagiaan itu membuatku seakan-akan kehilangan segala isi dunia. Oh, mengapa Kau cabut kebahagiaan ini dariku? Apa salahku? Adakah suatu dosaku yang berat bagi-Mu untuk mengampuninya? Aku telah berdoa di setiap siang dan malam kepada-Mu agar kebahagiaan itu tidak pergi. Jikalau kebahagiaan itu akhirnya Kau ambil juga, mengapa Engkau memberikan kebahagiaan itu dahulu? Sekalian saja aku sama sekali tidak pernah memakan serangan itu agar aku tidak pernah merasakan sakitnya kehilangan kebahagiaan itu. Dan akupun bertanya kepada diriku dimana akupun sendiri tidak kuasa menjawabnya: “Kenapa ada masa lalu yang begitu indah?”
Tapi sungguh kasih sayang-Mu melebihi segala sesuatu. Engkau benar-benar memperhatikanku di setiap gerak langkahku. Engkau memang Maha Tahu atas segala yang menyerang hatiku. Sungguh selama ini aku telah lalai bersyukur atas segala karunia-Mu. Aku akhirnya sadar bahwa Engkau menjawab doaku, walaupun bukan itu yang aku pinta di dalam doaku dahulu. Tapi Engkau memberikan kepadaku yang terbaik untukku, bukan berdasarkan hawa nafsuku yang apabila Engkau kabulkan itu, mungkin aku akan jatuh lebih terpuruk lagi. Bukankah Kau pernah berkata mesra di dalam firman-Mu kepada rasul kekasihmu “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohonn kepada-Ku….” *). Demi diriku sebagai tebusannya, tidak perlulah diragukan lagi janji-Mu. Tapi sungguh aku ini makhluk yang papa, yang tak menyadari dan tak tahu berterima kasih atas belas kasihan yang telah Engkau curahkan kepadaku.
Jadi, buat apalah aku terus merasa jatuh, terus merasa kehilangan kebahagiaan itu. Padahal Engkau telah dan akan memberikan kebahagiaan lain yang jauh lebih berarti dibanding itu. Yang tidak akan lekang oleh masa, dan tidak akan pergi untuk selama-lamanya.
Secercah harapan mulai kembali menaungiku. Kini aku pun tahu jawaban dari pertanyaanku, “Kenapa ada masa lalu yang begitu indah?” Karena akan ada masa depan yang lebih indah…”Kenapa aku rindu sorak-sorai tanda kebahagiaan dihatiku dahulu?” Karena jika cukup bersabar, maka suatu saat nanti malaikat akan bersorak-sorai merayakan kemenangan di hari yang ditunggu-tunggu.
Bagi teman-teman yang memiliki jawaban lain akan pertanyaan “Mengapa ada masa lalu yang begitu indah?” ditunggu posting-an atau reply-nya ![]()
*) Q.S. Al Baqarah(2) : 186
5 comments July 5, 2008
Jatuh Cinta dengan ……., Bahagia Rasanya
Aku lagi jatuh cinta. Bahagia banget rasanya : ) Siapakah gerangan yang membuat aku jatuh cinta?
Weitt, jangan berprasangka macem-macem dulu. Mungkin harusnya pertanyaannya diubah dulu. Bukan ‘siapa’, tapi ‘apa’. Karena memang bukan dengan ‘siapa-siapa’ yang membuat aku jatuh cinta.
Nah, udah saatnya titik-titk pada judul di atas diisi. Aku “Jatuh Cinta dengan mengajar, Bahagia Rasanya”. Sebenarnya kegiatan mengajar dah sejak lama aku jalani. Tapi baru dalam waktu dekat ini aku jatuh hati. Aku mengajar dimulai sejak SMA. Pertama kali, waktu itu, bu guru fisika ga bisa hadir. Temen2 sekelas memintaku untuk menjelaskan (walaupun dengan susah payah untuk mengeluarkan kata-kata gara-gara lafalku yang gagap dari bawaan orok, fiuh) pelajaran bab Mekanika di depan kelas. Dan akhirnya setiap si ibu ga hadir, aku biasanya menggantikan posisi si ibu fisika.
Masih di SMA, selanjutnya kegiatan mengajarku berlanjut di bidang yang laen. Aku ‘banting stir’ menjadi pengajar piano privat, walaupun dengan kemampuan yang pas-pasan . Inilah kegiatan mengajar ‘berhonor’ pertama yang aku jalani. Anak murid yang aku ajari piano waktu itu masih duduk di bangku kelas 5 SD. Waktu ditanya si orang tua murid berapa biaya les piano yang harus dibayar, aku malah bingung harus jawab berapa, karena memang aku belum punya pengalaman mengajar sebelumnya. Akhirnya aku menawarkan “Trial Edition” kepada si ortu murid tersebut ;p. Aku tawari masa percobaan les beberapa kali pertemuan kepada si orang tua, gratis. Kalau si anaknya suka, bisa dilanjut lesnya ‘n baru minta bayaran(jadi inget strategi jualan software, hihi).
Hari pertama mengajar piano, aku meminta si anak tersebut untuk memainkan 1 buah lagu, biar bisa mengukur sejauh mana kemampuan yang dah dimilikinya. Dan si anak pun memainkan 1 buah sajian lagu klasik sederhana karangan Mozart. Permainannya lincah dan akurat khas permainan piano klasik. Setelah itu, aku bercerita-cerita dengan si anak dan orang tuanya. Memang dari kecil si anak udah les piano dan udah bergonta-ganti guru piano klasik. Bisa ditebak dari kata-katanya, …‘bergonta-ganti guru’…, ya, artinya si anak & ortunya kurang puas & cepat bosan dengan guru-guru sebelumnya (wah, di dalam hati aku bergumam, siap-siap aja aku bakal dipecat cepat nih, hehe).
Dan memang ternyata tebakanku benar. Guru-guru piano terdahulu mengajar dengan cara ‘semi-militer’ (kayaknya aku terlalu berlebihan deh). Si anak sering dipaksa untuk bisa memainkan piano dengan baik dan benar. Bahkan ada salah satu guru yang suka membentak-bentak si anak jika melakukan kesalahan. Hasilnya? Hmm, memang bagus. Buktinya si anak mahir membaca partitur not balok dengan baik,serta hafal beberapa lagu klasik sederhana. Tapi, kemampuan yang dah dimiliki tidak sepenuhnya sesuai dengan requirement yang diinginkan si murid dan ortunya. Si anak ingin bisa memainkan lagu-lagu populer yang sering dia dengar di ‘tivi-tivi’ maupun di ‘kaset-kaset’. Dan si ortunya ingin anaknya bisa mengiringi mereka bernyanyi secara ‘on the fly’, atau spontan. (haha, sory terlalu banyak istilah-istilah Informatika yang dipake). Nah, ilmu tersebut ga bisa didapatkan si anak pada waktu belajar dengan guru2 piano terdahulu yang cenderung kaku dan ‘partiture-oriented’ (Sory lagi, bukan bermaksud ngajak perang dengan para pemain dan pencinta musik klasik ;p). ‘Pemberontakan’ si anak ini mengingatkan akan pengalamanku waktu kecil yang membelot dari aliran piano klasik gara-gara BT. Akhirnya selama belajar piano denganku, aku berhasil ‘menyesatkan’ si anak tersebut dari aliran musik klasik dengan mengajarinya konsep dasar musik dan lagu-lagu populer. Aku juga lebih menekankan pengajaran ‘hearing ability’ (kemampuan mendengar & menangkap nada-nada) sehingga si anak tersebut mampu memainkan lagu di piano tanpa membaca partitur not balok. Di akhir masa “trial”, si ortu melapor kepadaku bahwa anaknya jadi senang belajar piano dan ingin melanjutkan les pianonya. Wah, proyek ‘menyesatkan’ si anak sukses besar nih ! Hehe, mungkin yang membuat si anak senang les gara-gara aku sering mengajaknya bercanda, bukan karena les pianonya,
. (guru macam apa kau ini ghifar).
Okey, kita hentikan dulu cerita barusan. Singkat cerita, murid-murid les piano privat ku pun mulai bertambah, dengan berbagai umur, latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Aku datang ‘n pergi dari rumah ke rumah, jalan ke jalan, kampung ke kampung, naek gunung turun gunung, turun jurang naek jurang, turun sumur naek sumur (haha, 3 poin terakhir cuma khayalan belaka). Kalo dihitung-hitung, semua penghasilan ngajarin les piano privat dihabisin oleh ongkos naek angkot doank, hihi. Tapi tak apalah karena aku menikmati kegiatan ini.
Mulai masuk tingkat I kuliah, aku kembali ‘mengepakkan sayap’ (halah) menjadi pengajar privat mata pelajaran SD, SMP & SMA. Tantangan paling gede yang aku alami selama mengajar adalah waktu mengajar anak SD. Sulit sekali mengkomunikasikan bahasa yang tepat agar mudah dipahami oleh anak2. Dan kita pun harus punya kesabaran yang cukup mumpuni untuk menghadapi kelakuan anak2, fiuuh. Di pertengahan tingkat II, aku menghentikan beberapa les privat karena aku mulai sibuk menjadi asisten instruktur di salah satu bimbingan belajar dan menjadi pengajar tidak tetap di SMA-ku dulu. Semenjak itu, kecintaanku akan mengajar semakin bertambah-tambah.
Apa ya yang membuat aku cinta mati dengan mengajar?? Hmm, entahlah. Yang pasti bukan karena penghasilan yang didapat. Mungkin kalau hanya sekadar masalah penghasilan, jumlahnya tak seberapa. Jika penghasilan dari mengajarku ditotalkan per bulannya tetep ga melebihi penghasilanku dari 2 kali manggung main band di berbagai acara. Namun saat ini, mengajarlah yang menjadi kegiatan yang paling aku cintai. Berinteraksi dengan murid-murid, membuat mereka dari ga tau menjadi tau, bersenda gurau dengan mereka, mendengar kabar kalo mereka dah lu2s dan masuk ke perguruan tinggi yang mereka cita-citakan –diantaranya ada yang menjadi adik kelasku, 1 jurusan maupun di jurusan yang lain di kampus ganesha tercinta -, merupakan kebahagiaan tersendiri buatku. Entah kebahagiaan itu datangnya dari mana. Mungkin aja datang dari sorga
Kebahagiaan itulah mungkin yang membuat segelintir guru-guru yang bersahaja rela berkorban dan mengabdi sepanjang hayatnya demi mencerdaskan anak-anak didiknya.
Seandainya orang-orang terbaik bangsa banyak yang bersedia menjadi guru dan ikhlas untuk membagi-bagikan ilmunya, mungkin bangsa kita akan menjadi bangsa yang cerdas dan kuat di mata dunia. Kenyataanya yang menjadi guru kebanyakan orang-orang yang terpaksa, atau orang kayak aku ini yang ga memiliki kemampuan apa-apa cuma mengandalkan kesenangan belaka. Dan kebanyakan dari orang-orang pilihan bangsa pergi meninggalkan kita untuk mencari ‘seonggok kertas’ yang bisa ditukar dengan apa saja demi memuaskan kepentingan pribadinya. Padahal sudah jelas perbedaan ilmu dan harta dimana ilmu akan semakin bertambah jika dibagi-bagikan, sebaliknya harta akan semakin berkurang…
Gimana teman2ku? Tertarikkah untuk ikut mencerdaskan anak2 bangsa?
(Tulisan ini dibuat setelah aku membaca beberapa profil orang-orang Indonesia yang menjadi ‘anak emas’ di negeri orang, dan bahkan di negeri kita sendiri orang-orang tersebut tidak populer, kalah jauh dibandingkan artis..he3. Miris… & ironis bgt)
13 comments July 5, 2008



