Hikmah Ayat-Ayat Cinta


Di pertengahan suatu malam (Rabu, 27/02/08, 23:59) aku msh terjaga. Belum ada tanda-tanda kantuk yg menghampiriku. Seperti biasa,untuk menghilangkan suntuk, tanganku mulai mencari-cari tombol power laptopku. Setelah masuk ke windows, sepertinya mouse ku seakan-akan tak sabar untuk diarahkan ke suatu directory yang berlabel “Ayat-Ayat Cina”, dimana di dalamnya berisi file film yang aku donlot di kampus siang tadi. Tanpa berkedip kira2 2 1/2 jam lamanya, aku menyimak film tersebut disertai dengan decak kagum & terpana….

Alhamdulillah… di tengah-tengah maraknya film2 dalam negeri yang tidak malu-malu lagi mempertontonkan maksiat, muncullah sebuah film pelepas dahaga khususnya bagi bangsa ini, yang telah mengajarkan berbagai nilai-nilai Islam yang luhur yang selama ini jarang tersentuh oleh kebanyakan umat Islam sendiri. Judulnya “Ayat-Ayat Cinta” yang kisahnya diangkat dari sebuah novel yg berjudul sama dengan film tsb. Bukan bermaksud untuk berpromosi, he3, aku sarankan, tontonlah film ini !

Ada 3 hal penting yang aku pelajari dan ambil hikmahnya dari film ini. Yang pertama adalah masalah hubungan dengan lawan jenis. Sosok tokoh utama yg bernama Fachrie, telah memberi peringatan & mengajarkan kepadaku bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya. Bagi pemuda seusiaku ini, hal inilah yang paling sulit untuk dilakukan. Seseorang yang biasa bernaung di lingkungan yang positif, insyaAllah tidak sulit untuk meninggalkan berbagai maksiat. “Mencuri??merampok??no way..minum2 keras?apa enaknya sih….membunuh??sumpeh deh, ga pernah kepikiran….”. Namun, apabila dihadapannya ada kesempatan untuk berdua-duaan dengan cewe yang bukan muhrimnya, maka kemungkinan besar akan terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan (mungkin lebih tepatnya “yang diinginkan” :>). Memang sulit sekali bagi para remaja untuk meredam bisikan syetan yang satu ini. Lihat aja fakta-fakta yang ada disekitar kita, dimana pergaulan antar lawan jenis sebelum menikah telah menjadi hal yang lumrah. Jangankan anak2 muda..Orang yang sudah berumur pun banyak sekali yang mengalami puber kedua.

Maka dari itu, bagi anak2 muda, Islam tidak menganjurkan untuk berpacaran (lebih tepatnya ‘kontak fisik’, karena mungkin saja ada terminologi pacaran dalam artian lain) dan menyegerakan pernikahan. “Simpelnya, kalau mau berpacaran ala remaja saat ini, ya nikah dulu aja! Gampang kan?”. Begitulah kira-kira pemikiran naifnya atau ekstrimnya aku. Namun sayangnya budaya di negeri kita ini pernikahan dibuat begitu sulit (menurutku). Hal-hal materil lah yang diprioritaskan sebagai syarat utama untuk menikah, bukan hanya dari pihak keluarga, namun juga dari pribadi yang bersangkutan itu sendiri.  Sering sekali aku mendengar dari kebanyakan orang kata-kata seperti ini, “Ga kebayang gw mo nikah sekarang2 ini, nantilah tunggu ‘sukses’ dulu, baru nikah”. Di negeri kita ini, begitu juga di sebagian besar negeri2 yang lain, acara pesta syukuran untuk menikmati hidangan ‘ala kadarnya’ (yang sering kali diutarakan oleh MC, padalah makanannya mewah2, he3) itu jauh lebih mahal dibandingkan dengan upacara inti pernihakannya. Contoh lainnya, yaitu budaya di Makassar, seorang calon suami minimal harus mempunyai harta sebanyak 20 juta untuk dapat menikah (mohon diralat jika salah). Padahal dari ajaran fiqih Islam sendiri sangatlah mempermudah untuk melangsungkan pernikahan. Jika mengutip surat An-Nuur : 32 yang berbunyi :

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka fakir Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  

Jelaslah bahwa orang yang layak atau mampu menikah bukanlah berarti mampu secara materi. Arti mampu disini lebih dekat kepada kemampuan fisik (aqil baligh) dan kualitas jiwa seseorang. Mempersiapkan jiwa yang berkualitas inilah yang lebih sulit dicapai dan seharusnya lebih dipersiapkan dibandingkan dengan persiapan materi dalam melangsungkan pernikahan. Bagi yang berpacaran sudah lama dan saling dekat satu sama lain, bersegeralah menikah..jangan ditunda-tunda lagi jika tidak mau masuk ke lembah kehancuran. Semua yang kuceritakan digambarkan dengan baik oleh sosok Fachrie. Pelajaran yang kedua adalah tentang keikhlasan. Menurut yang ku pahami, ikhlas berarti melakukan segala sesuatu dengan motif hanya karena Allah. Orang yang ikhlas tidak akan pernah bimbang dalam melangkah dan tidak akan khawatir dengan segala sesuatu yang terjadi terhadap dirinya. Orang yang ikhlas tidak pula bergantung dan terbawa arus pengaruh lingkungan sekitar. Terkait dengan film tersebut, pada waktu Fachrie sedang berada di penjara dan hampir putus asa dengan berbagai cobaan yang menimpanya, seorang tawanan yang sudah gila menasehati Fachrie dengan menceritakan kisah Nabi Yusuf as yang difitnah oleh ibu tirinya sendiri untuk memaksa melakukan perbuatan zinah. Padahal ibu tirinya itu sendiri yang tidak tahan melihat ketampanan Nabi Yusuf dan menginginkan perzinahan tersebut. Akibat fitnah tersebut, Nabi Yusuf as dipenjara. Karena kedekatan dan keikhlasannya kepada Sang Maha, Nabi Yusuf sama sekali tidak putus asa dan bersedih. Malah Nabi Yusuf lebih senang berada dipenjara jika sekiranya di penjara tersebut akan membuatnya menjadi insan yang lebih baik serta menjauhkan dirinya dari para pendusta di luar sana. Contoh lainnya adalah sikap dari Aisyah, istri dari Fachrie, yang merelakan dan bahkan menganjurkan suaminya untuk menikahi seorang wanita yang sedang sakit keras. Itu dilakukan karena ia mendahulukan ‘panggilan hati’ dari Allah dibandingkan perasaan manusiawinya. Pelajaran yang ketiga adalah tentang poligami. Kisah yang dituturkan pada film Ayat-ayat cinta ini menegaskan pemahamanku bahwa poligami tidak diharamkan namun tidak pula seenaknya dapat dilakukan. Apabila seseorang tidak setuju atau bahkan mengharamkan poligami, artinya ia telah menantang perintah Tuhan yang jelas-jelas tidak mengharamkan poligami. Namun demikian, apabila seseorang dengan seenaknya melakukan poligami, maka ia telah menjadikan poligami sebagai urusan duniawi atau urusan kebutuhan biologis yang harus terus menerus dipenuhi. Pada film tersebut, seorang wanita bernama Maria yang sudah mengenal dan jatuh cinta dengan Fachrie sejak lama sedang sakit keras. Penyakitnya lebih disebabkan oleh stres berkepanjangan akibat tidak adanya Fachrie disisinya. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk bisa menyembuhkan penyakit fisik maupun batinnya, Fachrie-lah orangnya. Fachrie sendiri awalnya tidak mau melakukan poligami. Berkat persetujuan dan dorongan sang istri (Aisyah), Fachrie akhirnya menikahi Maria untuk dijadikan istri yang kedua. Dengan demikian, poligami merupakan sebuah pertolongan sosial yang hubungannya vertikal (kepada Allah) dan bukan urusan biologis semata. Ditambahkan lagi, itu pun (poligami) dapat dilakukan jika ada restu atau persetujuan dari istri pertama, seperti yang dicontohkan oleh Aisyah. Selain itu, syarat untuk dapat berpoligami sangatlah berat, yaitu selalu berusaha untuk dapat berlaku adil. Maka dari itu, jika merasa tidak sanggup untuk memenuhi semua aturan2x tersebut, sebaiknya jangan berpoligami.  

Begitulah kira2 hikmah dan pelajaran yang dapat ku tangkap dari film Ayat-Ayat Cinta ini. Beruntung sekali aku dapat menonton film yang begitu syarat dengan kualitas hikmah-hikmahnya. Ayo segera tonton filmnya! Jangan lupa kasih komentar ceritakan hikmah2 dan pelajaran lain yang didapatkan yang belum sempat tertulis di sini..ok? :>

4 thoughts on “Hikmah Ayat-Ayat Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s