Diantara yang ‘terbaik’ dan yang ‘lebih baik’, mana yang lebih baik?


Kira-kira 2 hari yang lalu aku membaca sebuah artikel yang menceritakan profil seorang juara dunia di bidang olahraga. Hmm… setelah membaca artikel tersebut, aku bener2 terpanggil untuk cepet2 ngubah persepsiku akan hal kesuksesan. Apa sih hal menarik yang aku dapatkan dari artikel itu?

Pada artikel tersebut, diceritakan pula sekilas tentang kisah perjalanan sang juara tersebut. Memang pada dasarnya sang juara ini punya bakat yang besar di bidang olahraga yang ia tekuni hingga saat ini. Namun, perbedaannya adalah prinsip hidupnya yang ia pegang sekarang ini dibandingkan dengan yang dulu. Dulu ia selalu berpegang pada prinsip selalu berusaha menjadi yang ‘terbaik’ untuk menjadi yang terbaik. Bagaimana pun caranya, pokoknya ia pengen menjadi yang superior. Nah kira2 apa dampaknya bagi dia? Karena prinsip tersebut, ia menjadi terlalu berambisi dengan cita-citanya. Ego pribadi didahulukan. Segala cara ia lakukan untuk mencapai tujuan. Pikiran dan perasaannya selalu gelisah jika ada orang yang mencapai prestasi yang lebih baik. Akibatnya, pada kenyataannya ia sering kali gagal untuk mencapai tujuan oleh karena hilangnya konsentrasi akan fokus utama. Teman-teman dan orang-orang terdekat disekelilingnya pun satu persatu mulai menjauhinya, karena ia dianggap orang yang egois.

Lalu, menurutnya, rahasia dibalik kesuksesan yang ia raih saat ini sebagai seorang juara dunia adalah dengan mengubah sikap dan prinsip hidup. Ia mengubah prinsip hidup dari menjadi yang ‘terbaik’ menjadi paling tidak ‘lebih baik’ dari yang sebelumnya. Dengan menjadi yang lebih baik dari yang sebelumnya, ia menjadi tidak lagi terlalu terobsesi dengan cita-citanya. Cukuplah berkonsentrasi pada keadaan diri sendiri, tidak terpengaruh oleh keadaan di luar dirinya. Ia sering melakukan evaluasi diri lalu perbaiki segala kekurangan yang ditemui.Tujuannya hanyalah satu yaitu menjadi orang yang lebih baik. Apapun hasil yang ia capai, ia terima dengan sepenuh hati. Malah dengan tidak terobsesi untuk menjadi yang terbaik, ia bisa menjadi yang terbaik. Ia pun menjadi orang yang disukai oleh banyak orang. Nice !

Abis baca artikel tersebut, aku jadi teringat dengan penggalan “Doa Hari Ahad” dari kitab Shahifah as Sajjadiyah yang berbunyi, ”…Jadikanlah hari esokku menjadi lebih baik dari saat ini dan hari ini…”. Dan penggalan tersebut banyak dapat ku temui di doa-doa lainnya. Malah aku tidak mendapatkan kata-kata “menjadi yang terbaik” pada kitab tersebut. Dengan kata lain, agama pun menganjurkan untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Setelah ku pikir-pikir, emang bener juga sih. Aku pun pernah mengalami hal yang serupa dengan sang juara. Rasa gelisah akan kegagalan & rasa iri akan kesuksesan orang lain tuh tinggi banget. Kesimpulannya, boleh-boleh aja punya cita-cita yang setinggi langit. Asal jangan terobsesi dan terlalu bergantung atau berpegang pada cita-cita tersebut, yang malah dapat menjadi bumerang bagi diri kita sendiri, bumerang yang merusak konsentrasi dan mengotori kemurnian berkreasi. Cita-cita yang paling baik sebenernya sih simple aja, jadilah menjadi manusia yang lebih baik di hari esok. :>

2 thoughts on “Diantara yang ‘terbaik’ dan yang ‘lebih baik’, mana yang lebih baik?

  1. Wah, artikelnya menarik far.. Baru baca review-nya aja uda ngena.
    Apa karena gw-nya aja ya yg langsung ngerasa keserempet. >___<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s