Jatuh Cinta dengan ……., Bahagia Rasanya


Aku lagi jatuh cinta. Bahagia banget rasanya : ) Siapakah gerangan yang membuat aku jatuh cinta?

Weitt, jangan berprasangka macem-macem dulu. Mungkin harusnya pertanyaannya diubah dulu. Bukan ‘siapa’, tapi ‘apa’. Karena memang bukan dengan ‘siapa-siapa’ yang membuat aku jatuh cinta.

Nah, udah saatnya titik-titk pada judul di atas diisi. Aku “Jatuh Cinta dengan mengajar, Bahagia Rasanya”. Sebenarnya kegiatan mengajar dah sejak lama aku jalani. Tapi baru dalam waktu dekat ini aku jatuh hati. Aku mengajar dimulai sejak SMA. Pertama kali, waktu itu, bu guru fisika ga bisa hadir. Temen2 sekelas memintaku untuk menjelaskan (walaupun dengan susah payah untuk mengeluarkan kata-kata gara-gara lafalku yang gagap dari bawaan orok, fiuh) pelajaran bab Mekanika di depan kelas. Dan akhirnya setiap si ibu ga hadir, aku biasanya menggantikan posisi si ibu fisika.

Masih di SMA, selanjutnya kegiatan mengajarku berlanjut di bidang yang laen. Aku ‘banting stir’ menjadi pengajar piano privat, walaupun dengan kemampuan yang pas-pasan . Inilah kegiatan mengajar ‘berhonor’ pertama yang aku jalani. Anak murid yang aku ajari piano waktu itu masih duduk di bangku kelas 5 SD. Waktu ditanya si orang tua murid berapa biaya les piano yang harus dibayar, aku malah bingung harus jawab berapa, karena memang aku belum punya pengalaman mengajar sebelumnya. Akhirnya aku menawarkan “Trial Edition” kepada si ortu murid tersebut ;p. Aku tawari masa percobaan les beberapa kali pertemuan kepada si orang tua, gratis. Kalau si anaknya suka, bisa dilanjut lesnya ‘n baru minta bayaran(jadi inget strategi jualan software, hihi).

Hari pertama mengajar piano, aku meminta si anak tersebut untuk memainkan 1 buah lagu, biar bisa mengukur sejauh mana kemampuan yang dah dimilikinya. Dan si anak pun memainkan 1 buah sajian lagu klasik sederhana karangan Mozart. Permainannya lincah dan akurat khas permainan piano klasik. Setelah itu, aku bercerita-cerita dengan si anak dan orang tuanya. Memang dari kecil si anak udah les piano dan udah bergonta-ganti guru piano klasik. Bisa ditebak dari kata-katanya, …‘bergonta-ganti guru’…, ya, artinya si anak & ortunya kurang puas & cepat bosan dengan guru-guru sebelumnya (wah, di dalam hati aku bergumam, siap-siap aja aku bakal dipecat cepat nih, hehe).

Dan memang ternyata tebakanku benar. Guru-guru piano terdahulu mengajar dengan cara ‘semi-militer’ (kayaknya aku terlalu berlebihan deh). Si anak sering dipaksa untuk bisa memainkan piano dengan baik dan benar. Bahkan ada salah satu guru yang suka membentak-bentak si anak jika melakukan kesalahan. Hasilnya? Hmm, memang bagus. Buktinya si anak mahir membaca partitur not balok dengan baik,serta hafal beberapa lagu klasik sederhana. Tapi, kemampuan yang dah dimiliki tidak sepenuhnya sesuai dengan requirement yang diinginkan si murid dan ortunya. Si anak ingin bisa memainkan lagu-lagu populer yang sering dia dengar di ‘tivi-tivi’ maupun di ‘kaset-kaset’. Dan si ortunya ingin anaknya bisa mengiringi mereka bernyanyi secara ‘on the fly’, atau spontan. (haha, sory terlalu banyak istilah-istilah Informatika yang dipake). Nah, ilmu tersebut ga bisa didapatkan si anak pada waktu belajar dengan guru2 piano terdahulu yang cenderung kaku dan ‘partiture-oriented’ (Sory lagi, bukan bermaksud ngajak perang dengan para pemain dan pencinta musik klasik ;p). ‘Pemberontakan’ si anak ini mengingatkan akan pengalamanku waktu kecil yang membelot dari aliran piano klasik gara-gara BT. Akhirnya selama belajar piano denganku, aku berhasil ‘menyesatkan’ si anak tersebut dari aliran musik klasik dengan mengajarinya konsep dasar musik dan lagu-lagu populer. Aku juga lebih menekankan pengajaran ‘hearing ability’ (kemampuan mendengar & menangkap nada-nada) sehingga si anak tersebut mampu memainkan lagu di piano tanpa membaca partitur not balok. Di akhir masa “trial”, si ortu melapor kepadaku bahwa anaknya jadi senang belajar piano dan ingin melanjutkan les pianonya. Wah, proyek ‘menyesatkan’ si anak sukses besar nih ! Hehe, mungkin yang membuat si anak senang les gara-gara aku sering mengajaknya bercanda, bukan karena les pianonya,😛. (guru macam apa kau ini ghifar).

Okey, kita hentikan dulu cerita barusan. Singkat cerita, murid-murid les piano privat ku pun mulai bertambah, dengan berbagai umur, latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Aku datang ‘n pergi dari rumah ke rumah, jalan ke jalan, kampung ke kampung, naek gunung turun gunung, turun jurang naek jurang, turun sumur naek sumur (haha, 3 poin terakhir cuma khayalan belaka). Kalo dihitung-hitung, semua penghasilan ngajarin les piano privat dihabisin oleh ongkos naek angkot doank, hihi. Tapi tak apalah karena aku menikmati kegiatan ini.

Mulai masuk tingkat I kuliah, aku kembali ‘mengepakkan sayap’ (halah) menjadi pengajar privat mata pelajaran SD, SMP & SMA. Tantangan paling gede yang aku alami selama mengajar adalah waktu mengajar anak SD. Sulit sekali mengkomunikasikan bahasa yang tepat agar mudah dipahami oleh anak2. Dan kita pun harus punya kesabaran yang cukup mumpuni untuk menghadapi kelakuan anak2, fiuuh. Di pertengahan tingkat II, aku menghentikan beberapa les privat karena aku mulai sibuk menjadi asisten instruktur di salah satu bimbingan belajar dan menjadi pengajar tidak tetap di SMA-ku dulu. Semenjak itu, kecintaanku akan mengajar semakin bertambah-tambah.

Apa ya yang membuat aku cinta mati dengan mengajar?? Hmm, entahlah. Yang pasti bukan karena penghasilan yang didapat. Mungkin kalau hanya sekadar masalah penghasilan, jumlahnya tak seberapa. Jika penghasilan dari mengajarku ditotalkan per bulannya tetep ga melebihi penghasilanku dari 2 kali manggung main band di berbagai acara. Namun saat ini, mengajarlah yang menjadi kegiatan yang paling aku cintai. Berinteraksi dengan murid-murid, membuat mereka dari ga tau menjadi tau, bersenda gurau dengan mereka, mendengar kabar kalo mereka dah lu2s dan masuk ke perguruan tinggi yang mereka cita-citakan –diantaranya ada yang menjadi adik kelasku, 1 jurusan maupun di jurusan yang lain di kampus ganesha tercinta -, merupakan kebahagiaan tersendiri buatku. Entah kebahagiaan itu datangnya dari mana. Mungkin aja datang dari sorga😉 Kebahagiaan itulah mungkin yang membuat segelintir guru-guru yang bersahaja rela berkorban dan mengabdi sepanjang hayatnya demi mencerdaskan anak-anak didiknya.

Seandainya orang-orang terbaik bangsa banyak yang bersedia menjadi guru dan ikhlas untuk membagi-bagikan ilmunya, mungkin bangsa kita akan menjadi bangsa yang cerdas dan kuat di mata dunia. Kenyataanya yang menjadi guru kebanyakan orang-orang yang terpaksa, atau orang kayak aku ini yang ga memiliki kemampuan apa-apa cuma mengandalkan kesenangan belaka. Dan kebanyakan dari orang-orang pilihan bangsa pergi meninggalkan kita untuk mencari ‘seonggok kertas’ yang bisa ditukar dengan apa saja demi memuaskan kepentingan pribadinya. Padahal sudah jelas perbedaan ilmu dan harta dimana ilmu akan semakin bertambah jika dibagi-bagikan, sebaliknya harta akan semakin berkurang…

Gimana teman2ku? Tertarikkah untuk ikut mencerdaskan anak2 bangsa?

(Tulisan ini dibuat setelah aku membaca beberapa profil orang-orang Indonesia yang menjadi ‘anak emas’ di negeri orang, dan bahkan di negeri kita sendiri orang-orang tersebut tidak populer, kalah jauh dibandingkan artis..he3. Miris… & ironis bgt)

13 thoughts on “Jatuh Cinta dengan ……., Bahagia Rasanya

  1. salam
    Duh sumpah pengalaman yang sangat menarik, hey dirimu hebat ya, pintar piano, jago fisika, suka hal2 yang berbau IT, familiar dengan anak kecil, suka membagi ilmu. hmm bener sie kesenangan dan kepuasan serta kebahagiaan memang bukan semata-mata berstandar atas materi.. tapi bagaiamana membuat hidup lebih hidup dengan bidang yang disukai *eh kok kayak iklan rokok;nyambung ga seeh*🙂

  2. Gilee si Ghifar… ntar jadi dosen IF aja kow, Far… hihihi🙂 , sekalian ngambil fast track.

    Pernah ngasih trening gak Far? Menurut kamu beda gak sih rasanya ngajar sama jadi trainer? Gue belum pernah ngerasain jadi “guru” beneran soalnya, hehe…

  3. @KnightDNA : semoga doa lo bwt gw terkabul Diaz, he3🙂

    Gw juga pernah ngasih trening….. Apa yah bedanya?Bingung juga. Abis tipis banget benang merahnya, hehe.

    Trening yang kayak gmn dulu nih??hmm, misalnya asumsi gw tentang trening ini yang kayak di kampus kita, letak perbedaannya ma “ngajar beneran”, menurut gw klo ngajar kita ga sekadar transfer ilmu doank. Setau gw, prinsip di dunia pendidikan bagi si anak didik itu adalah keteladanan& tujuannya adalah pembentukan karakter. ‘n “teladan” ga sama dengan “contoh”. (lebih tepatnya “teladan” superset dari “contoh”🙂 ).

    Jika ada seorang murid nganggep salah seorang gurunya jadi teladan, maka si murid pastilah ngikutin segala sifat-sifat gurunya, tingkah lakunya, ilmunya, pola pikirnya, de el el lah.. dengan tujuan agar si murid punya karakter pembelajar. Nah, biar tujuannya tercapai, si gurunya haruslah punya karakter pembelajar juga. Banyak aspek lain yang harus dikuasai oleh guru selain kemampuan menransfer ilmu doank, fiuhh…susah euy.

    Sejauh ini gw sendiri ngerasa masih belum bisa jadi “teladan” yang baek😦 baru jadi “contoh” doank, itupun jadi contoh yang buruk…wkwkwk

  4. Tentang piano, kok jadi inget Nodame ya? (ya iyalah, si Nodame mainin piano)

    Tentang mengajar, jangan cuma ‘mengajar’, harusnya ‘mendidik’. Dengan ‘mendidik’, kita memasukkan unsur keteladanan seperti yang kamu sebutkan. Kalau mengajar, ya asal yang diajar mengerti sama apa yang kita ajarkan, itu udah cukup kan🙂

  5. mzz……q ve,,minta tlg gimana caranya nemuin jdul duat skripsi dan tidak ditolak terus ma dosen???smpe skrg q pusing n bingung,, mna biaya kul pas-pasan…….minim bnaget…kasih solusi donk mzzz???thanks

  6. @iva : waduh, kyknya bertanya ke orang yang kurang tepat. aq aja smp skrg belum nyentuh tuh yang namanya skripsi. jadi belum ngerasain rasanya ditolak ma dosen, hi3… mungkin dosennya mba’ pengen judul skripsi yang unik kali mba’ *ngira2 aja *

  7. thanks yach uda mau blzzz…….Mca cehhhh, tp logikanya maen banget loch!!!emang kelas berp???oh yach dek ghifar tahu g istilah TEORI BIFURKASI……??Mungkin pernah dengar??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s