Ga ramah….. huh sebel…


Kalau mo membanding-bandingan, pengalamanku ketika berhadapan dengan orang-orang di beberapa institusi pemerintahan, pelayanan yang disuguhkan sungguh kurang ramah dibandingkan dengan institusi swasta, termasuk di kampusku sendiri. Sebel deh… Trus, senin kemarin waktu membeli tiket di loket stasiun kereta api Bandung, seorang mba’-mba’ sedikit pun sama sekali ga tersenyum (cantik-cantik koq jutek).. Padahal aku dah berusaha masang tampang senyum dengan mba’ itu. Tambah sebel lagi deh..Tinggal senyum aja apa susahnya sih ya?

Bukan hanya di loket stasiun kereta. Di maskapai penerbangan-lah, di bank-lah, di kantor pos-lah, di loket jalur Busway-lah, di PLN-lah, pokoknya hampir sebagian besar organisasi/perusahaan yang dikelola pemerintah yang pernah aku temui memang bener2 membuat klien sebel. Coba bandingkan dengan servis dari institusi-institusi swasta…

Ada apa ini semua?? Hmm, aku memamklumi siy. Memang, duit yang didapatkan dari institusi pemerintahan memang ga seberapa dibandingkan institusi swasta. Lagian kalo di institusi pemerintahan, mereka merasa bahwa kita yang butuh mereka, sedangkan kalo di institusi swasta, mereka merasa bahwa merekalah yang membutuhkan kita. Tapi apa memang keramahan itu ditentuin oleh faktor-faktor tersebut? Apa memang kalo seseorang merasa ga dapet duit banyak alias kurang sejahtera artinya ga boleh ramah dengan orang lain? Apa memang ada aturan kalo pegawai-pegawai pemerintahan dilarang ramah? Apa memang ramah itu cuma ditunjukkan kalau kita merasa butuh dengan klien, kayak di instansi swasta? Artinya minta pamrih donk? Atau jangan-jangan budaya ‘ga ramah’ di lingkungan pemerintahan ini merupakan efek samping akibat ‘permainan kotor berjamaah’ ala pejabat pemerintah? Ah, udah ah, pusing mikirinnya. Setahuku, ketidakramahan seseorang tuh dipengaruhi oleh tingkat stress yang tinggi. Artinya, orang-orang diinstansi pemerintahan sekarang dah pada stress semua (bukan bermaksud menggeneralisasi). Udah stress, ditambah ga ramah, malah tambah stress deh.

Apa susahnya untuk bersikap ramah? Padahal dengan tersenyum sedikit aja, seseorang dah bisa dibilang ramah. Bukannya kalo senyum itu ibadah? Bukannya ramah itu menambah kebahagiaan kita? Huh, sebel…’n sekaligus prihatin.

Sekali lagi, tulisan ini bukan bermaksud untuk menggeneralisasi permasalahan. Cuma sekadar melampiaskan ke-‘sebel’-an di hati aja. Masih ada juga koq mas mas, mba’ mba’, ibu ibu, bapak bapak di institusi pemerintahan yang masih ramah, di tengah-tengah kacaunya dunia pemerintahan. Makasih banget atas keramahannya. Semoga Tuhan membalas ibadahnya.

13 thoughts on “Ga ramah….. huh sebel…

  1. jadi inget september nanti ktp habis,,,yang bikin males tuh liat staff2 di kecamatan udah pada pake sendal jepit, ga ada senyum, minta bayar pula, padahal kan seharusnya gratis

    capeeeeeeeeeeeeeeeeeeee deh

  2. Terlalu sulit buat dipikirikan. Hehe. Tapi emang yang paling mungkin itu seperti yang ditulis di atas, kalo sama hidupnya aja orang ga puas, gimana mau ramah ke orang.😀

  3. @ressay : haha, emangnya elo, ser..😉

    @Supermance : nah, kalo ini dihajar aj, he3 (liat komen ressay)

    @ray rizaldy : BOleh JOged (baca :boleh juga) tuh!

    @brahmasta : setuju !

    @abdee : ekekekek ! good mas. senyum itu ibadah

  4. Salam
    he..he.. dah biasaa kali, klo institusi pemerintah, pelayanan entah no berapa, senyum aja susyah, mgkn mikirnya ramah ga ramah dibayar juga, klo swasta kan lain, service number one jadi bener2 deh klien, tamu, customer adalah raja, gw sie klo dah keliatan tampang jutek, jutekin aja lagi.. pasang tampang lebih serem😀

  5. Ha ha has setuju banget Ghifar🙂

    Kadang aku coba-coba seramah mungkin, senyum selebar-lebarnya he he he Tapi mereka kok tidak tersenyum sama sekali ya, terlihat murung & ketus.

    Saya hanya kasihan aja dengan mereka, hidup yang sudah penuh dengan perjuangan ini malah seharian dibuat cemberut😦

    Apa kita haru bawa kado dulu buat mereka🙂

  6. Sepertinya bukan karena faktor materi seperti gaji dan lain-lain Ghifar. Sepertinya iklim dan budaya kerjanya yang membentuk mereka seperti itu.

    Beberapa kali saya sering menemui pengayuh becak yang sangat ramah & selalu tersenyum ketika mengantarkan saya yang berat ini he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s