Road to ITB Students Orchestra 5th Anniversary Concert (The Power of Five)


Intro

Mumpung skrg2 ga terlalu banyak kesibukan, rasanya saat yg tepat untuk menulis tentang salah satu momen yang paling aq nanti-nantikan ^_^. Ya, pada tanggal 13 Maret 2010 nnt, ITB Students Orchestra (ISO) bakal menggelar konser akbar di Sabuga dalam rangka memperingati ulang tahun ISO yang ke-5. Bagiku pribadi, ini bakal jadi penyuguhan musik terbesar yang pernah aq persembahkan, khususnya sebagai Conductor & Music Director dari ISO. Eh, tapi tulisan ini sebenernya ga cuma menceritakan tentang konser tsb. Aku pengen sedikit banyak cerita ttg pengalamanku dalam bermusik. (makanya judulnya ditambahin The Power of Five, ntar diceritain maksudnya apa) :p

Umur 5 Tahun

Ketertarikanku sendiri akan musik dimulai sejak umur 5 tahun. Ketertarikan itu timbul karena sering melihat ayahku yang ‘tampak keren’ kalau lagi bermain piano atau gitar di rumah, kadang-kadang beliau sambil bernyanyi. Aku juga suka suara piano itu yang ga terlalu nyaring tapi lebih cenderung tebal-bergema sehingga terkesan mellow ^_^ {5 thn kemudian akhirnya piano itu dijual😦 gmn nasib gitarnya? masih ada koq sampe skrg, ada dipangkuanku skrg sambil nulis postingan ini🙂 } Keterpesonaan akan permainan piano ayahku akhirnya berubah jadi ke-iri-an yang bikin aku ‘merengek-rengek’ untuk minta diajari oleh beliau.  Dengan pengetahuan musik beliauyang ‘seadanya’ itu, aku mengenal nada Do, Re, Mi, dst dan menghapal tuts piano yg harus dipencet yang mana aja, hehe… Melihat minatku bermusik wkt itu, 2 thn kemudian aku dimasukkan ke kursur piano di Yamaha Music School terdekat (walaupun ayahku bilang agak berat untuk mengkursuskan aku karena biayanya mahal untuk ukuran waktu itu).

Tapi dasar aku-nya aja anak yang ga tau diuntung. Setelah masuk kursur, malah aku terkesan bersikap malas-malasan belajar piano. Alasan utamanya karena jadwal kursur bentrok dg tayangan Kesatria Baja Hitam :p . Alasan lainnya karena guru nya galak, yang akhirnya menimbulkan sifatku yang ‘pemberontak’ dalam bentuk acuh tak acuh. Pada waktu ujian kenaikan tingkat, aq ga berlatih dan akhirnya ujianku kacau balau. Dari semua kategori penilaian (seingetku ada tangga nada, teknik jari, sight-reading alias baca partitur, permainan lagu, hearing), semuanya dapet nilai D, kecuali ‘hearing’ yg dapet A. Walaupun ujian ini ga ada kata ‘ga naik kelas’, melihat performaku yg seperti ini, guruku bilang ke ayahku kalo sebaiknya Ghifar jangan dinaikkan dulu ke tingkat yg lebih tinggi, karena bakal repot untuk mengikuti lesson2 selanjutnya kalo level yang ini aja belum terkuasai. Tapi guruku jg bilang ke ayahku kalo aku punya ‘hearing’ yg sangat bagus. “Ghifar bisa mencontoh persis sama lagu sederhana yang saya mainkan tanpa melihat partitur atau tangan saya di piano”, ujar guruku ke ayahku. Dengan mengetahui anjuran tersebut, akhirnya ayahku memutuskan memberhentikan aku dr Yamaha Music School. “Mahal2 biayain kursur piano kmu, tapi kmunya ogah-ogahan. Tapi ya ada hikmahnya, jadi tau juga kelebihan & kekurangannya”, kata ayahku.

Waktu Kelas 5 SD

Setelah berhenti dari kursus piano Yamaha, aku tetap sering bermain-main dengan piano. Kesukaanku ialah mem-‘piano’-kan lagu2 apa saja yang aku dengar dg style permainanku sendiri  (bahkan lagu Es Krim Waltz juga aku buat dgn versi piano :p). Waktu kelas 5 SD, ayahku mempertemukan aku dengan temannya yg juga seorang pianis & komponis cukup ternama di kota Palembang yang akhirnya menjadi guru privat pianoku di rumah. Hari pertama privat dg beliau, aku disuruh untuk memainkan sebuah lagu. Seingatku waktu itu aku memainkan lagu lawas berjudul “Love is Blue” dengan gayaku sendiri. Kesan pertama beliau setelah mendengarkanku bermain, beliau kaget karena melihat anak kelas 5 SD ‘berani’ mengobrak-abrik melodi dan harmoni lagu “Love is Blue” (walaupun aq yakin bgt ga semua hasil ‘obrak-abrik’-nya enak didengar :p)  sehingga agak berbeda dgn lagu aslinya. Karena ketertarikan beliau untuk mengajar dan membimbing aku, beliau sampe2x bersedia untuk tidak dibayar ! (dasar seniman :p).  Seiring waktu berjalan, hubungan resmi kami antara guru & murid berjalan cukup lama (sekitar 5 tahunan). Dalam kurun waktu itu, beliau telah banyak mengajarkan aku, tidak hanya sekadar bermain piano, tetapi juga sampai ke teori fundamental dan komposisi musik, yg menjadi bekal untuk mampu menguasai alat2 musik lainnya. (analoginya ibarat kuliah di Informatika ITB, aku dibekali kemampuan untuk menguasai & memakai bahasa pemrograman apapun, asal paham konsep & cara kerjanya😀 ). Beliau juga sering mengajakku untuk menjadi pianis pengiring paduan suara-paduan suara mahasiswa di Palembang yang beliau asuh dan ‘conduct’, dan pernah juga mengajakku pentas di TVRI palembang. Selain berlatih piano, sekali-sekali dengan bimbingan beliau (sebagai selingan belajar piano agar tidak stress) aku jg mencoba berlatih gitar, suling recorder, pianika, harmonika, biola, hingga akordion. Khusus untuk alat musik gitar, aku bersama band aliran rock SMP-ku, dimana aku berperan sebagai Rhythm Guitarist, sering manggung di sekolah dan ikut kompetisi-kompetisi di luar sekolah.

(P.S:  Guru pianoku sejak aku kelas 5 SD ini bernama E. Alwi Alcaff. Aku biasanya memanggil beliau dengan panggilan “Om Alwi”. Waktu aku masuk kelas 1 SMA, beliau dipanggil oleh Allah SWT ke pangkuan-Nya. Semoga Alm. Om Alwi mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin. Terima kasih Om atas segala ilmu & amal yg sudah diberikan. Doaku setiap saat selalu menyertaimu)

5 tahun terakhir…

5 tahun yg lalu itu kira2 waktu awal-awal aku berkuliah di ITB. Sejak bersekolah SMA merantau ke Bandung, aku jarang sekali berlatih piano (ga ada alatnya juga siy😛 ). Semasa SMA seringnya nge-band2-an sebagai gitaris, sesekali sebagai keyboardist. Waktu Open House Unit di ITB, aku tertarik dengan unit kesenian yang baru saja terbentuk (umurnya baru hitungan bulan) bernama ISO (ITB Students Orchestra) dan memutuskan untuk mendaftar sebagai pianis. Bersama teman2 lain yang bergabung waktu itu, kita didaulat sebagai anggota angkatan pertama ISO🙂 . Simpel aja pertimbangannya untuk bergabung dg ISO, supaya aku bisa sering-sering maen piano lagi, hehe.. (aku mikirnya dibandingkan unit yg lain, di ISO-lah yg plg bisa menyalurkan hobby-ku bermain piano, walaupun ternyata pemikiranku tidak sepenuhnya tepat :p). Dikarenakan memang pada dasarnya piano hanyalah pelengkap di orkestra dan pada waktu itu memang ISO lebih fokus ke pengembangan alat musik biola (string section), jadi hanya sekali-sekali aku tampil bersama ISO sebagai pianis (dan itupun biasanya juga  diajak tampil kalo lagu yg dimaininnya ga ada partitur pianonya :p). Selain sebagai pianis, beberapa kali juga aku diminta Adit (Conductor ISO waktu itu) untuk mengaransemen lagu2 orkestra. Di jurusan Informatika sendiri, aku cukup aktif tampil sebagai pianis/keyboardis/gitaris di acara2 intern jurusan, seperti syukuran wisuda, temu akrab, temu alumni, dsb.

Yang tidak kalah menariknya bagiku dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini adalah perjalanan musikku di luar kampus. Waktu awal2 jadi mahasiswa, aku diperkenalkan dgn orang-orang yg berada di komunitas musik di Bandung. Pada akhirnya aku membentuk sebuah band dimana anggota2nya semua merupakan mahasiswa akademi musik, kecuali aku. Ini awal mulanya aku merasakan pengalaman bermusik yang bisa menambah ‘uang saku’😛. Bersama mereka aku mengenal musik2 jazz dan R ‘n B yg selama ini belum ‘terjamah’ olehku, yang notabene sedikit beraliran klasik, agak nge-rock, dan cenderung banyak nge-pop. Seringkali kami tampil di kafe-kafe, acara tahun baru, ulang tahun, acara pensi sekolahan & kampus, launching product, acara wedding, dan bahkan event2 besar seperti Java Jazz & Java Soulnation. Dari sini pula aku dipertemukan dengan penyanyi seriosa (tenor) nasional ternama yaitu Pak Christopher Abimanyu. Beliau sering mengajakku untuk mengiringinya bernyanyi di berbagai event, serta memberikanku berbagai pekerjaan aransemen lagu baik untuk keperluan musik iringan ataupun album-album.

Yang paling berkesan dari semua yg berkesan, tak terasa skrg ISO akan menginjak usia yang ke-5 tahun. Dalam kurun waktu usia balita ini ISO telah banyak melakukan hal-hal yang besar yang rasanya tidak mungkin dilakukan. Sangat tidak mudah untuk menghidupkan musik-musik orkestra di dunia kampus non-musik. Aku sendiri tidak menyangka ISO berhasil hidup dan berkembang sepesat ini. Ada karakter khas yang melekat di diri para anggota ISO, khususnya para ejang/founder dan angkata pertama ISO (Didiet, teh Ilma, Adit, Vanya, Fafa, Mas Krisna, kk Marie, mas Uul, Moxi, Anti, Faiz ‘n Tantri, Dilez, Jeff, serta nama2 lainnya yg ga mungkin aku sebutin satu per satu di sini), yaitu antusiasme untuk meraih mimpi. Aku telah banyak belajar dari mereka bagaimana untuk mewujudkan mimpi jadi kenyataan. Salut untuk semua apa yang telah mereka lakukan kepada ISO.

Dalam periode 1 thn menjelang ultah ISO yg ke-5 ini, aku diberi amanah sebagai Conductor & Music Director ISO. Pertama kali menerima peran sebagai Conductor sebenarnya keputusan yang ‘nekat’. Seorang Conductor tidak hanya dituntut u/ memiliki kemampuan musikalitas yang eksepsional, tetapi juga membutuhkan kemampuan-kemampuan lainnya sebagaimana layaknya pemimpin sejati. Dan aku merasa ga punya kedua hal tersebut😦 Rasanya waktu itu aku seolah-olah ‘dijeblosin’ ke medan perang tanpa tahu bagaimana caranya berperang. Berawal dari chatting-an basa-basi dengan Adit, keluarlah kalimat dari ku : “btw, sebenernya aku tertarik juga siy jadi conductor …”. Pas mo nulis kalimat kedua : “tapi aku ga pny skill mumpuni dan pengalaman sama sekali. jadi, aku ga yakin bisa”, sebelum pencet tombol Enter, eh, ternyata keduluan sama pesan si Adit: “NAAAAAAAAH, gmn kalo nnt langsung aja latihan berikutnya kamu yang pimpin??😛 ” (dan pada akhirnya kalimat kedua dari aku itu ga pernah ter-publish :p ). Dan pada akhirnya pula aku benar2 memimpin teman2 ISO di latihan berikutnya, hadoooh..  Sekali lagi thx berat kepada maestro Adit yg udah bisa membuat aku sampai ke sini🙂 Bagiku pribadi, kesan menjadi Conductor sungguh luar biasa. Banyak sekali pembelajaran2 yang aku dapatkan sehingga menjadikan diri ini lebih baik lagi🙂 Dan pengalaman pertamaku menginjakkan kaki ke luar negeri (ke Manila) untuk belajar lebih lanjut mengenai orkestra juga karena berkat peran ini. Sekali lagi, terima kasih ISO🙂🙂

ITB Students Orchestra 5th AnniversaryConcert

Sekarang tibalah saatnya acara puncak ISO dalam periode kepengurusan ini. Awal thn 2010 ini 2 buah konser besar sekaligus kami adakan, di gedung Usmar Ismail Jakarta dan di gedung Sabuga Bandung. Konser yang di Jakarta (bertajuk Pre-Concert) telah kami lakukan pada tanggal 23 Januari lalu dgn cukup sukses. Apalagi konser ini turut diramaikan oleh 2 musisi papan atas Indonesia, yaitu mas Addie MS dan mba Aning Katamsih, yang sudah memberikan berbagai kontribusi yg sangat berharga bagi kami selama proses persiapan maupun pelaksanaan konser (makasih banyak mas Addie, mba Aning ^_^). Konser berikutnya akan diadakan tanggal 13 Maret 2010 di Sabuga, yg nanti akan turut dimeriahkan oleh PSM, MBWG, Salamander Big Band + mba Imelda Rosalin, dan pak Christopher Abimanyu, dengan tema Cinema of Life Symphony. Para penonton akan disuguhkan lagu-lagu bertemakan soundtrack film2 ternama (secara implisit menceritakan juga perjalanan hidup ISO selama 5 tahun terakhir) sehingga seolah-olah diajak untuk ‘menonton musik’. Tiket mudah2an sudah bisa dibuka pembeliannya di pertengahan bulan Februari ini. So, be ready for our concert ! ^_^

Ending, (The Power of Five?)

Ya, bagiku angka 5 merupakan angka spesial khususnya kisah perjalanan musikal. Umur 5 thn, kelas 5 SD, kurun waktu 5 tahun terakhir, dan ulang tahun ISO ke-5 merupakan momen-momen penting yang akan selalu ku ingat sepanjang masa. Angka-angka 5 ini pula telah membawaku tertuju ke suatu makna filosofis dari bermusik:

Dahulu, bermusik hanyalah sebagai aktifitas egoistis yg sekadar “yang penting gw suka&seneng sendiri” dan narsistik (“biar keliatan lebih keren”). Sekarang, bagiku bermusik bisa menghilangkan ego ke-‘aku’-an ku, karena bermusik bisa memberikan ‘makna’ di hati org lain yang mendengarkan. Manusia bisa merasa ‘hidup’ karena ‘makna’. Apalah artinya hidup tanpa ‘makna’. Tiada kebahagian lain yang mampu menandingi kebahagian dengan cara memberi ‘makna’ ke hati org lain dengan tulus ikhlas. Dengan demikian, bermusik membuatku ‘bahagia’. Dan ‘bahagia’ itu merupakan tujuan hidup semua manusia baik di dunia maupund di alam sana

Sekian.. ^_^ (maafkan aku jadi berbohong karena janji di awal bakal menulis ‘sedikit banyak’. ternyata ‘banyak’ aja, haha)

14 thoughts on “Road to ITB Students Orchestra 5th Anniversary Concert (The Power of Five)

  1. ih seneng nama ilma disebut, hahahaha (narsissssss)

    tapi ilma seneng sekarang jadi tau cerita dan alasan pribadi ghifar di ISO🙂

    Jangan lupa titipan aransemen2 tea..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s