Hubungan antara Allah Sang Pencipta dan Makhluk


Kembali menulis dalam Bahasa Indonesia ^_^

Seperti biasa tiap malam sebelum menjelang tidur, aku sisihkan waktu lebih kurang 1/2 jam untuk membaca buku. Seperti biasa juga aku mengambil sebuah buku dari tumpukan buku secara ‘random’ tanpa melihat buku apa yang ku ambil. Kali ini buku yang terambil berjudul “Rahasia Basmalah dan Hamdalah”,yang berupa rangkuman tulisan ceramah-ceramah di televisi dari sang revolusionis Ayatullah Khomeini (semoga Allah selalu memuliakannya). Saat melihat-lihat daftar isi untuk mencari bab apa yang akan ku baca, ada satu judul bab yang menarik perhatianku, yaitu “Hubungan antara Allah dan Makhluk”. Sebenarnya dulu buku ini pernah ku baca, tapi entah mengapa pembacaan kali ini membawa makna dan pemahaman tersendiri yang sulit untuk dijelaskan.

Berikut ini cuplikan tulisan (tanpa penyaduran) dari awal bab Hubungan Antara Allah dan Makhluk :

Hubungan Antara Allah dan Makhluk

Kita sedang berbicara tentang kata mana yang berkaitan dengan kata ‘ism’ dalam ‘bismillah‘. Dalam hal ini ada beberapa kemungkinan seperti telah kami sebutkan.

Pencipta dan Makhluk

Untuk memahami beberapa permasalahan yang telah kita diskusikan, maka kita perlu memahami sifat hubungan Allah dengan dunia ciptaan. Kita mungkin membicarakan hubungan ini seperti membebek dan mengulang-ulang kata-kata tertentu, atau juga mengajukan beberapa argumen. Hubungan Tuhan dengan ciptaan tidak seperti hubungan antara suatu makhluk dan makhluk lainnya, seperti halnya hubungan bapak terhadap anak atau hubungan anak terhadap bapak, yang merupakan hubungan antara dua wujud independen yang mempunyai relasi satu dengan lainnya. Hubungan antara cahaya matahari dan matahari menunjukkan keterkaitan yang lebih erat, yang masing-masing sedikit banyak keberadaannya terpisah. Keterkaitan yang juga lebih erat ditunjukkan oleh relasi antara manusia dan fakultas mental dan fisiknya. Bahkan dalam kasus ini manusia dan fakultas-fakultasnya tidak identik, meski berkaitan erat. Hubungan antara semua wujud terhadap Allah tidaklah dapat dianggap sama dengan contoh-contoh di atas.

Baik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi saw. terdapat ungkapan yang menggambarkan sifat sejati hubungan Allah dan makhluk-Nya sebagai kemuliaan Allah. Misalnya: Tuhan menyingkapkan kemuliaan-Nya kepada gunung itu (Surah Al A’raf:143); atau ungkapan dari Doa Simat: Dengan cahaya kemuliaan-Mu yang Engkau singkapkan pada gunung, sehingga ia hancur berantakan. Kedua ungkapan ini menunjukkan bahwa sifat hubungan Tuhan terhadap ciptaan adalah berupa penyingkapan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh ayat, Allah mencabut jiwa seseorang saat ia mati ( Surah Az-Zumar:42), padahal diketahui bahwa mencabut nyawa itu pekerjaan Malaikat Maut; dan oleh ayat, Tatkala kamu melempar maka sesungguhnya Allah yang melempar (Surah Al-Anfal:17), yang menyatakan hubungan itu secara eksplisit. Semua ini adalah penggambaran tentang suatu ‘cahaya’ dan suatu ‘kemuliaan’, Jika kita merenungkan konsep ini, timbul pertanyaan-pertanyaan tertentu di benak kita.

Makna-makna Al-Hamd

Berdasarkan kemungkinan pertama al-hamd berarti semua bentuk pujian dan kata ‘hamd‘ dan kata ‘ism‘ artinya banyak. Apa pun pujian yang dipanjatkan tidak dapat tidak akan kembali kepada Allah, karena semua yang dipuji adalah manifestasi atau kemuliaan Allah. Matahari memanifestasikan dirinya dalam sinarnya. Manusia memanifestasikan dalam fakultas penglihatan dan pendengarannya. Allah memanifestasikan Diri-Nya jauh lebih awal dalam setiap makhluk-Nya. Karena itu, jika sesuatu dipuji, sesungguhnya yang dipuji itu manifestasi kemuliaan Allah. Karena segala yang ada adalah ayat-ayat dan nama-nama Allah.

Dalam kemungkinan kedua, al-hamd berarti pujian absolut dan, berlawanan dengan kemungkinan yang pertama, tidak ada pujian yang dipanjatkan dapat dihubungkan dengan Allah. Pujian tersebut hanya dapat dihubungkan dengan manifestasi-Nya dan karenanya tidak dapat bersifat mutlak. Bagaimanapun, karena segala pluralitas tenggalam dalam Wujud Mutlak, maka dapat dikatakan bahwa setiap pujian yang dipanjatkan berkaitan dengan-Nya. Perbedaannya terletak pada sudut pandang melihat persoalan ini. Jika kita melihatnya dari sudut pluralitas, maka setiap pujian itu memuji Allah, segala yang ada adalah nama-Nya, dan setiap nama saling berbeda. Menurut kemungkinan ini, makna bismillah berbeda dengan maknanya menurut kemungkinan lain. Ciri utama kemungkinan ini adalah bahwa dalam konsepsi ism (nama) tersirat arti pluralitas. Allah adalah nama yang di dalam nama itu dipertimbangkan tahap pluralitas dan detil. Nama ini adalah ‘Nama Agung’ di mana tersingkapkan kemuliaan Allah.

Kemuliaan Allah dalam segalanya

Nama Yang Agung merupakan manifestasi dari kemuliaan Tuhan dalam segala sesuatu, dan nama-nama Al-Rahman dan Al-Rahim merupakan manifestasi dari tindakan-tindakan pengasih dan penyayang-Nya. Hal yang sama juga berlaku untuk rabbil ‘alamin, iyyaka na’budu dan seterusnya. Tetapi menurut kemungkin kedua, yang menganggap al-hamd dalam ‘al-hamdu lillah‘ bermakna pujian mutlak dan total. Dalam kasus ini konsepsi Allah, Rahman dan Rahim juga sedikit berbeda. Semua konsepsi ini dapat dibuktikan melalui filsafat yang berbeda dengan filsafat biasa yang umum diketahui. Ini jelas berbeda dengan pengalaman para awliya’ yang ‘menyaksikan langsung’ setelah melewati tahap perjalanan spiritual.

Sekian dulu yang dapat ku tulis, sesuai dengan apa yang ku baca semalam (pada kenyataannya tidak sampai 1/2 jam karena keburu tertidur :p). Hikmah yang ku ambil dari pembacaan singkat ini ialah betapa ‘dekatnya’ Allah kepada kita. Kedekatan ini tidak seperti kedekatan kita kepada orang tua, saudara kandung, sahabat, istri, dsb, tetapi bahkan jauh ‘lebih dekat’ lagi, dimana ‘kedekatan’ tersebut sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata,  jauh diluar jangkauan kita sebagai manusia biasa. Mengutip 2 buah ayat Al Quran lainnya: Ke mana pun kamu menghadap di situ wajah Allah (Q.S. 2:115); Semuanya binasa kecuali wajah-Nya. Kepunyaan-Nya segala hukum. Dan kepada-Nya kamu semua kembali (Q.S.: 28:88), jadi jelaslah bahwa wajah/manifestasi/kemuliaan Tuhan selalu menaungi kita, tapi terkadang manusia seringkali lupa diri dan terikat dengan jeratan egoisme (sifat ke-aku-an yang menganggap bahwa “‘ini’ kepunyaan ku, ‘itu’ kepunyaan ku, aku harus mempunyai ‘ini’, aku harus mempunyai ‘itu’, padahal semua ‘ini’  dan ‘itu’ Allah-lah sang pemiliknya) yang menjadi sumber segala kehancuran baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga ke depannya aku masih sempat menuliskan bab-bab menarik nan penuh hikmah lainnya yang ada di buku “Rahasia Basmalah dan Hamdalah”.

Semoga bermanfaat, mohon maaf kalo kurang berkenan🙂

 

One thought on “Hubungan antara Allah Sang Pencipta dan Makhluk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s