Indonesia Merintih


Berikut sebuah tulisan menggugah mengenai pendidikan di Indonesia yang saya kutip dari milis IA-ITB, ditulis oleh P.M. Susbandono. Semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua untuk kemudian dapat melakukan sesuatu yang lebih baik lagi untuk dunia pendidikan negeri kita.

Judul yang sangat sentimentil. Ketika hari-hari ini mendengar cerita-cerita getir yang memprihatinkan, saya menjadi emosionil. Apalagi kalau bukan masalah pendidikan, masalah proses belajar-mengajar, masalah guru, masalah sarana dan fasilitas sekolah, masalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Meskipun disana-sini terdapat titik-titik nyala api yang tetap menumbuhkan semangat untuk bangkit, kisah bernada sebaliknya justru mendominasi alur kisah saya minggu ini.

Renungan akan diawali dengan kisah tentang “penelitian” yang saya lakukan secara amatir. Kegiatan yang jauh dari layak untuk disebut riset. Apalagi studi ilmiah yang melibatkan ahli penelitian-sosial dengan metodologi yang dapat dipertanggung-jawabkan. Semuanya saya lakukan sendirian, dan saya akui, sangat-sangat tidak akademis. Tetapi, hasilnya tetap saya paparkan di tulisan ini. Terserah, anda boleh percaya, setengah percaya atau tidak sama sekali.

Saya tinggal di sebuah kampung, di Tangerang Selatan. Status sosial penduduk asli tergolong menengah ke bawah, sementara masyarakat pendatang relatif sedikit lebih baik. Dari pergaulan dengan tetangga kampung, saya menarik hipotesa bahwa tingkat pendidikan warga kampung kami relatif rendah. Menamatkan pendidikan (hanya) level SLTA, bukan merupakan suatu status yang harus dikejar sampai dapat.

Bulan Juni 2011, dimulailah “survei” kecil-kecilan, sederhana dan hanya dilakukan ketika senggang. Kegiatan ini lebih tepat disebut investigasi dan sekedar memenuhi rasa ingin tahu saja. Apa yang saya lakukan adalah : apabila bertemu dengan remaja yang kira-kira sepantaran usia sekolah, saya tegur dia dan menanyakan 1-4 pertanyaan, semacam kuestioner. Ia berkisar pada :

apakah dia masih duduk di bangku sekolah?

kalau sudah putus sekolah, kelas berapa dia keluar?

mengapa dia putus sekolah?

apakah setelah putus sekolah, dia bekerja dan mendapatkan penghasilan yang tetap?

Dari sekitar 36 remaja yang berhasil saya temui, hasilnya cukup memprihatinkan. 5 remaja (13,8% responden) drop out di tingkat SD, 8 (22,2%) di level SLTP dan 11 (30,5%) di level SLTA. Hanya 10 orang (27,7%) yang berhasil lulus SLTA dan 2 responden (5,8%) mengaku masih duduk di bangku kuliah. Ternyata, angka putus-sekolah sampai dengan level SLTA cukup tinggi, yaitu 66,6%. Hanya sepertiga remaja yang mampu meneruskan sekolah sampai tingkat SLTA dan PT.

Angka yang lebih menyedihkan adalah dari 5 remaja yang DO di tingkat SD, 4 (11,1%) diantaranya tidak bisa membaca dan menulis. Lazim disebut buta-huruf atau tuna aksara. Dan dari 24 remaja yang putus-sekolah, 20 diantaranya (83,3%) kemudian tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan tetap, alias nganggur atau jobless. Ketika Alvin Toffler dalam “Third Wave” sudah sampai mengatakan bahwa “Buta huruf pada masa kini bukan lagi mereka yang tidak dapat membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak bisa dan mau belajar”; di Indonesia, di sekitar Jakarta, di dekat ibukota negara, masih dijumpai orang-orang yang benar-benar buta huruf dalam arti yang sebenar-benarnya. Tofler ternyata keliru mengambil asumsi, dikiranya buta-huruf sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Hampir semua remaja DO mengaku, faktor ekonomi yang menyebabkan itu terjadi, sementara tidak mendapat pekerjaan merupakan sebab mengapa mereka menganggur.

Saya tidak tahu, apakah anda menganggap “riset” yang saya lakukan secara serampangan dan tidak ilmiah diatas, hasilnya bisa dipercaya dan cukup valid atau tidak. Akan tetapi social feeling saya, setelah tinggal bersama mereka selama 17 tahun, nampaknya cukup klop.

Kampung kami tidak jauh dari pusat kekuasaan. Jarak ke titik nol yaitu centre of power, Istana Negara, hanya sekitar 40 km, sementara dengan kantor Kementerian Depdikbud, pusat pemerintahan yang mengurus dan bertanggung jawab masalah pendidikan dan kebudayaan, hanya 30 km. Tetapi, nasib pendidikan warga negara yang berdiam di sana (sudah) memprihatinkan.

Bayangkan, pada saat dunia diisi dengan kemajuan informasi dan telekomunikasi yang mengagumkan, dipenuhi kepesatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melesat jauh ke atas sana, di suatu daerah yang hanya 1 jam dari pusat kekuasaan negara, masih banyak anak bangsa yang buta aksara.
Bagaimana dengan mereka yang berada di nun jauh di sana?

Kompas, Jumat, 2 Desember 2011, memberitakan berita dengan judul “Ketertinggalan yang Melelahkan”. Isinya senada dengan “riset” asal-asalan yang saya lakukan. Tetapi, skalanya, jauh lebih parah. Kejadiannya di provinsi paling timur Indonesia, Papua Barat. Cerita diawali dengan nasib seorang murid SMPN 17 Minyambauw, Kabupaten Manokwari. Namanya Yahezkiel Ullo. Dia harus berjalan 3 kilometer setiap berangkat dan 3 kilometer lagi untuk pulang sekolah. Kondisi jalan tanah berbatu, menembus bukit dan hutan di pegunungan Arfak. Becek kalau hujan turun sebentar saja. Jadi, jangan bertanya kalau Ullo sering tak masuk sekolah kalau musim hujan tiba. Tak heran kalau Ullo mengaku penat setibanya di sekolah.

Sekolah dengan 161 murid itu, hanya diasuh oleh 3 guru tetap dan 2 guru honorer. Tidak perlu dicek bagaimana mereka menerapkan proses belajar-mengajar di sana. Kelima guru tadi, kebetulan bukan guru Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA. Mata-mata pelajaran yang diuji di ujian akhir nasional. Saya tidak tahu, mereka guru di bidang studi apa. Tetapi apa yang bisa diharap dari suatu sekolah yang tidak mempunyai guru bidang studi utama. Dapat diterka dengan mudah bagaimana mutu pendidikan di sana.

Yang tak kalah seru, tetapi cukup mengharukan, petugas militer yang sedang bertugas di sana, sering acting menjadi guru bantu atau pelengkap. Entah, mereka mengajar dengan kualitas dan metoda seperti apa. Mungkin pepatah “tidak ada rotan, akar pun jadi”, menginspirasi mereka untuk melakukan praktek ini.

Artikel yang sama juga menggambarkan kondisi pendidikan pada umumnya yang sangat-sangat memprihatinkan. Gedung sekolah yang reyot, jumlah dan kualitas guru yang jauh dari cukup, fasilitas dan sarana pendidikan yang seadanya, dan proses belajar-mengajar yang minimal. Bahkan hanya berjarak 40 km saja sudah terjadi erosi nilai pendidikan habis-habisan, bagaimana dengan keadaan yang jaraknya ribuan kilometer? Dunia pendidikan Indonesia memang sedang merintih, sedang berduka, sedang prihatin. Ibu pertiwi sedang bersusah hati, menyaksikan putra-putrinya tenggelam dalam kebodohan. Lebih tepatnya, dibodohi, entah oleh siapa.

Cerita pilu di atas masih ditambah dengan berita di koran Tempo, Rabu,7 Desember 2011, halaman C2. Plafon SDN, Kelapa Dua 03 pagi, Kebon Jeruk, Jakarta Pusat ambruk, Senin lalu. 43 siswa kelas 3 yang sedang melaksanakan ulangan sekolah terpaksa ngungsi ke Mushola. Kisah menjadi semakin menggemaskan, karena renovasi sekolah dengan ABPD sebesar 1,2 milyard rupiah, baru selesai dikerjakan bulan Januari lalu. 11 bulan paska perbaikan, gedung sekolah sudah berantakan. Tambah karut-marut catatan dunia pendidikan kita. Ironisnya, sekali lagi, itu terjadi di depan mata, telinga dan muka pusat kekuasaan negara. Jangan ditanya bagaimana yang di Papua, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Sumatera atau bahkan sekali pun di Jawa.

Untung, ada cerita berikutnya, yang membuat saya agak lega dan menghela nafas panjang. Kisah yang cukup menghibur. Cerita ini saya tonton di acara TV, “Kick’s Andy” yang disiarkan Metro TV, Jumat malam, 2 Desember 2011 dan saya baca dari buku “Indonesia Mengajar”. Diceritakan tentang terbentuknya “Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar” (YGIM). Ia didirikan, salah satunya, dan diketuai oleh Dr. Anies Baswedan. Kisah ini mungkin bisa sedikit mengobati dan menyembuhkan kegundahan hati anda ketika membaca kisah-kisah diatas.

YGIM adalah sebuah organisasi nir-laba yang menyeleksi dan mengumpulkan pengajar-pengajar muda, lulusan S1 dari seluruh Indonesia untuk melakukan kerja-nyata. Mereka di kirim ke pelosok-pelosok Nusantara, untuk mendidik tunas-tunas bangsa yang tidak mendapat kesempatan menikmati pendidikan bermutu. Mereka tersebar di 117 desa di 14 kabupaten mulai dari Aceh Utara hingga Papua Barat. Mereka adalah sarjana terpilih yang bahkan meningggalkan pekerjaannya, yang sudah menghasilkan materi berkecukupan dan kenyamanan yang menggiurkan. Tetapi mereka memilih untuk “belajar” mencintai anak-anak bangsa yang terbelakang. Hidup dalam kesepian desa atau bahkan gunung atau hutan, dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dengan tantangan alam yang berat dan sering dengan ancaman sosial yang mengerikan, bahkan mematikan. Tetapi mereka tak bergeming untuk mengorbankan semua itu, entah atas nama apa, karena hanya hati tulus mereka yang bisa menjawabnya.

Salah satu “pahlawan” muda itu adalah Ayu Kartika Dewi. Gadis 28 tahun itu rela meninggalkan pekerjaannya yang nyaman di Singapura “hanya” untuk menuruti panggilan hatinya, bergabung dengan YGIM. Ayu, lulusan Fakultas Ekonomi Unair, Surabaya rela mengabdikan dirinya di SDN Papaloang, Kecamatan Bacan Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Dia hidup dengan sarana dan fasilitas yang sangat jauh dari metropolitan kota, tetapi masa-masanya dilalui dengan rasa gembira. Saya, anda dan kita, pantas untuk malu, ketika hari ini tidak berbuat apa-apa untuk pendidikan anak-anak bangsa. Ketika hari ini, kita hanya bisa menggerutu atau blame orang lain. Sering atas nama rakyat-jelata, agama atau agama. Tetapi tidak berarti apa-apa dibanding Ayu dan seluruh slagorde YGIM.

Memang sering kisah-kisah yang membuat kita putus-asa terhadap dunia pendidikan bangsa, tiba-tiba disiram dengan air sejuk optimisme. Bahwa masih ada, atau masih banyak warga-negara yang tidak hanya memikirkan nasib sendiri saja. Mereka juga memikirkan kebangkitan bangsanya. Untung, bahwa Indonesia masih mempunyai mereka.

Padahal, masalah pendidikan adalah masalah utama negeri ini. Hanya dengan pendidikan yang baik dan benar, maka kita mampu bangkit dan tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ketika teringat pepatah Cina, tambah sedih saya mengartikannya. Entah siapa yang merangkainya, yang menunjukkan betapa pendidikan adalah satu-satunya alat untuk menyelesaikan karut-marut permasalahan bangsa ini.

Jika anda berencana untuk hidup satu tahun, tanamlah padi. Jika anda berencana hidup sepuluh tahun, tanamlah pohon.
Jika anda berencana hidup selama 100 tahun, didiklah manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s