Master lagi atau PhD ?


Karena disibukkan dengan aktifitas mengajar dan berbagai pengembangan software, urusan yang seharusnya jadi my next goal (apply beasiswa untuk kuliah PhD di luar negeri) jadi terbengkalai. Tahun lalu saya sudah sempat sampai ke tahap wawancara di 2 program beasiswa, yaitu U.S. Fulbright Scholarship dan Monbusho. Tapi setelah itu alhamdulillah sampai sekarang belum ada kabar lagi yang berarti saya artikan tidak lolos😀

Sekadar menerka-nerka mengapa saya belum lolos, kemungkinan besar saya kurangnya di wawancara lisan (tidak terlalu fasih berbicara bahasa inggris) dan masih kurang publikasi paper ilmiah baik skala nasional maupun internasional. Untuk beberapa program PhD yang saya coba apply, kebanyakan sangat mempertimbangkan track record penelitian. Tidak hanya diminta untuk menuliskan track record penelitian pada form aplikasi, di wawancara pun saya selalu ditanya mengenai pengalaman penelitian. Sementara, semasa 5 tahun kuliah S1 + S2, saya tidak pernah memasukkan paper penelitian ke jurnal/prosiding. Barulah setelah selesai sekolah saya mulai rajin meneliti, menulis paper, dan mengikuti seminar/konferensi (ga rajin-rajin amat juga sih). Kalau dipikir-pikir lagi, ada ruginya juga selesai kuliah cepat-cepat 😀 Kuliah hanya terbatas pada kejar tayang mengikuti perkuliahan dan mengerjakan skripsi/tesis. Tidak terlalu banyak waktu yang dimanfaatkan untuk melakukan penelitian dan menulis (mudah-mudahan ini hanyalah sekadar excuse saya pribadi).

Berhubung sulitnya memenuhi kriteria untuk mendapatkan beasiswa program PhD di luar negeri, saya berpikir apakah sebaiknya ambil kuliah Master lagi aja ya? Saya pikir mungkin kans-nya akan lebih besar untuk mendapatkan beasiswa dibandingkan program PhD. Nanti selama kuliah Master, saya berencana  pol pol an bakal konsentrasi untuk meneliti dan menulis. Semakin banyak hasil penelitian, maka akan semakin mudah nantinya untuk melanjutkan ke PhD (sebenarnya inginnya sih yang penting segera keluar sejenak dulu dari negeri yang tercinta ini, hehe). Tentunya kuliah master di luar negeri akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dibandingkan kuliah di ITB dulu. Tapi, asyik juga sih kalau bisa langsung kuliah PhD.

Duuh, galau nih, hehe..😀 Any sugestion?

 

4 thoughts on “Master lagi atau PhD ?

  1. Kalau misalnya mau ambil master lagi dan pengen lebih ngerasain riset dan nulisnya, mgkn sebaiknya pilih Jepang far :p Bukan promosi sih. Kalo master di Eropa kayaknya masih lbh banyak porsi kuliahnya ketimbang risetnya, kayak di ITB mgkn, 3 semester kuliah 1 semester nesis. Kalo Amerika gtw jg sih gmn. Kl PhD kayaknya di mana pun sama2 berasa risetnya, hehe..

  2. @reSHA: hooo.. begitu ya..thx infonya ya uni. monbusho tahun ini kapan dibuka lagi ya? sepertinya bakal coba lagi. masih penasaran, hehe..

    @Asop: yup dulu fasttrack.. tapi ga dahsyat kok, biasa2 aja, ehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s