Bagaimana menumbuhkan passion dalam menulis?


Baiklah ! Sudah waktunya untuk mengakhiri “paceklik” menulis.

Judul di atas bukanlah konotasi yang akan memberikan pembacanya tips-tips untuk menulis, tapi denotasi yaitu saya benar-benar bertanya bagaimana caranya menumbuhkan passion tsb😀. Sebenarnya udah lama sekali ingin selalu konsisten menulis. Tapi tampaknya masih belum ketemu passion dalam menulis sehingga semangatnya naik turun. Beda sekali semangatnya ketika saya mengerjakan beberapa hal berikut: programming stuffs, main musik, membaca buku baru, main sepak bola, mengajar. Pengen sekali semangat untuk menulis, at least, sama dengan semangat dalam mengerjakan hal-hal tersebut.

Mungkin karena cukup lama terdidik sebagai engineer/scientist dan classical musician, tampaknya paradigma Think -> Plan -> Do ini terbawa ketika merencanakan akan menulis. Bukan berarti menulis tidak butuh think, plan, dan do, tapi saya melakukannya sekuensial dan kadang terlalu kepentok di think & plan, dan akhirnya tidak pernah melakukannya. Kalau ada yang ngerti atau masih inget konsep Waterfall Model di software engineering, mungkin kira2 mirip itulah style saya. Bedanya seringkali saya tidak melanjutkan ke proses do, hehe… “Pengennya nulis topik ini dan topik itu,.. pengennya cerita ini itu, … pengennya nulis pakai bahasa Inggris,…pengennya struktur tulisannya seperti ini dan itu, … pengen placing bagian humornya di sini dan di situ, dsb”, dan hasilnya… seringkali tidak ada satu tulisan pun :p

Tampaknya seharusnya paradigmanya seperti main musik Jazz. Kita tau aturan-aturan musik seperti melody, harmony/chord, rhythm, pattern style, song structure dan sisanya “ah.. gimana nanti dipanggung aja”. Dan tulisan ini dicoba untuk dibuat pakai paradigma terakhir. Pertanyaannya, kalau menulis untuk kepentingan research apakah cocok memakai paradigma jazz-like ini? atau lebih cocok pakai paradigma awal yg saya ceritakan? atau ada paradigma2 lainnya yg lebih cocok?

Namun, menurut saya isu yang paling penting adalah passion itu sendiri. Ketika telah mencapai tahap passion, kita bisa bereksperimen dengan berbagai style. Selama ini saya selalu punya excuse bahwa tidak cukup waktu untuk menulis karena saya harus mengerjakan ini dan itu. But, why I always have time to do computer programming? why I always have time to read research papers, to watch and play football, to hear and play music? to watch movie? to do travelling? Jadi alasannya adalah karena saya tidak pernah memasukkan kegiatan menulis dalam jadwal. Kenapa saya tidak pernah memasukkannya dalam jadwal? karena belum nemu passion-nya, hehe..

In addition, kemampuan menulis (particularly in English) yang baik buat saya yang sedang jadi mahasiswa PhD ini mungkin sekarang jadi hal yang wajib. Waktu di acara orientasi PhD 2 bulan lalu saya pernah mendengar pengisi acara menyampaikan tentang teknik yang disebut dengan snack writing (tentu artinya bukan menulis sambil makan snack :p), yaitu teknik dimana menulis konsisten setiap hari dalam rentang waktu (e.g. 1 – 2 jam) dengan banyaknya tulisan yang tidak terlalu ‘muluk-muluk’, misalnya 0.5 atau 1 halaman (tapi font-nya jangan gede-gede ya). Bisakah saya melakukan ini dimana track record menulis saya selama ini tidak konsisten? I wish I could😉

Bagaimana style menulis Anda?🙂

One thought on “Bagaimana menumbuhkan passion dalam menulis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s