Jalan-Jalan di Italia (Part 1)


Too good to be true !

Bagi saya begitulah kesan selama menikmati perjalanan di 2 kota di Italia, yaitu Roma dan Florence. Dan rasanya sayang sekali kalau tidak diabadikan dalam bentuk beberapa tulisan, mumpung pengalamannya masih fresh di kepala.

Saya mulai dengan tulisan pertama (mudah-mudahan tidak kehilangan semangat untuk disusul dengan tulisan-tulisan berikutnya) mengenai pengalamaan 3 hari di Roma. Selain tentang opini mengenai pengalaman saya pribadi, informasi pada seri tulisan kali ini saya akan coba buat sedetil-detilnya, termasuk info mengenai biaya yang dibutuhkan untuk makan, transportasi, tourism, dan souvenir.

Sebenarnya tujuan utama saya ke Italia adalah untuk mempresentasikan research paper saya di konferensi (ICASSP) yang diadakan di Florence (akan ada tulisan khusus mengenai konferensi ini). Namun tidak afdhol rasanya ke negara yang sangat bersejarah ini tanpa ‘jalan-jalan’.

Jumat, 2 Mei 2014

Awal di Roma

Hari Jumat, 2 Mei 2014 jam 8 pagi waktu Roma, tibalah saya di bandara Fiumicino atau Leonardo Da Vinci. Cuaca di Roma cukup hangat karena musim panasnya baru dimulai, namun tidak terlalu membuat saya berkeringat.

Saya berangkat sejak hari Kamis, 1 Mei 2014 di pagi hari dari Wellington dengan Singapore Airlines dengan 2 kali transit (Auckland dan Singapura). Lama pejalanan Wellington-Auckland, Auckland-Singapura, dan Singapura-Roma adalah masing-masing sekitar 1 jam, 12 jam, dan 13 jam. Di bandara Auckland dan Singapura saya menunggu sekitar 2 jam dan 6 jam lamanya.

Setelah perjalanan selama lebih dari 30 jam tsb tanpa cukup tidur, ingin sekali rasanya langsung menuju hostel dan tidur lelap. Namun demikian, pemandangan arsitektur khas Romawi yang saya nikmati selama perjalanan dari bandara ke Roma Termini (stasiun terminal utama di Roma) dilihat dari dalam bus langsung membuat saya terjaga kembali.

Anyway, saya menggunakan jasa bus Terravision ke Roma Termini dengan harga €4 yang bisa dipesan online. Ada beberapa pilihan bus dan juga kereta dari bandara ke Roma Termini dengan harga di bawah maupun di atas €4 (hingga $25 untuk shuttle bus yang bisa langsung diantar tepat di tempat tujuan). Dengan mempertimbangkan kondisi bus yang cukup nyaman dan hostel yang tidak terlalu jauh dari Termini, bus Terravision ini bagi saya sudah sangat cukup.

Setibanya di Roma Termini, saya langsung mencari loket Roma Pass, yaitu semacam tiket terusan bagi turis selama 2-3 hari. Dengan Roma Pass seharga €36, kita mendapatkan 1 kit Roma pass berisi kartu, buku panduan, peta, serta layanan free public transportation, apapun moda transportasinya (well, selama masih transportasi darat) dan gratis 2 situs arkeologi/museum utama pertama yang kita kunjungi (tidak termasuk museum Vatican). Untuk informasi lebih lanjut silakan langsung kunjungi http://romapass.it/.

Bagi yang menghabiskan waktu di Roma selama lebih kurang 3 hari, Roma Pass ini sangat ekonomis dibandingkan membeli tiket satu per satu untuk tempat tertentu, baik dari sisi finansial maupun sisi waktu, i.e., tidak perlu antri untuk beli tiket di tempat.

Oke. Untuk menyingkat cerita, saya skip ceritanya hingga malam harinya karena setibanya saya di hostel, sebagian besar waktu yang saya habiskan adalah tidur😀. Oiya, saya mencari dan memesan penginapan melalui booking.com jauh sebelum tiba di Italia.

Piazza Di Spagna

Sekitar jam 7 malam dengan cuaca hujan yang cukup deras namun ‘labil’, saya memutuskan untuk hang out ke tengah kota sekalian mencari makan malam. Berhubung situs-situs arkeologi dan museum sudah tutup, pilihan tempat tujuan akhirnya jatuh pada Piazza Di Spagna, salah satu square yang paling terkenal di Roma, tempat di mana Spanish Step, Fontana della Barcaccia, dan gereja Trinità dei Monti berada.

The Spanish steps merupakan stairway berjumlah 135 anak tangga yang menghubungkan Bourbon Spanish embassy (inilah alasannya mengapa dinamakan Spanish Steps) dengan gereja Trinità dei Monti. Tangga ini didesain oleh Alessandro Specchi dan Fransesco De Sanctis, diresmikan pada tahun 1725. Tahun 1995 tangga ini direstorasi.

Di tengah-tengah The Spanish Steps terdapat taman bunga, yang jika dipadukan dengan pemandangan geraja Trinita dei Monti, mungkin merupakan background favorit para turis untuk mengambil foto. Saat ini di sana pun tampaknya telah menjadi tempat favorit para ABG (+pasangannya masing-masing) dari seluruh penjuru dunia untuk hang out. Paling tidak, saya berhasil menguping pembicaraan para ABG ini (yang tampaknya) dalam bahasa Inggris, Arab, Jerman, Rusia, Thailand, dan Cina. Tapi sayang sekali saya tidak mengerti pembicaraannya. Dan sayang sekali pula kali ini saya men-‘jomblo’ di sana.

Jika kita melihat ke arah bawah The Spanish Steps, kita dapat melihat air mancur yang seharusnya indah, bernama Fontana della Barcaccia/Fountain of The Old Boat yang bahkan dibangun sebelum The Spanish Steps. Namun timing saya saat itu kurang pas karena air mancurnya sedang dalam renovasi.

Saya menghabiskan waktu di area Piazza di Spagna ini sekitar 1.5 jam, menikmati suasana, mengambil foto, dan membaca tulisan-tulisan dalam bahasa Latin. Melihat tipografi bahasa Latin tersebut, yang langsung terlintas di kepala saya adalah font Times New RomanWell, mungkin dari situlah namanya diambil. Ah seandainya saya mengerti bahasa Latin, mungkin saya lebih dapat mengapresiasi peninggalan-peninggalan tua ini.

Perjalan menuju ke/pulang dari Piazza di Spagna saya tempuh dengan kereta bawah tanah (Metro) yang cukup nyaman dan reliable. Selang waktu kedatangan kereta sekitar 7-10 menit dari jam 5:30am sampai 11:30pm (00:30am di hari Sabtu).

Dan juga banyak yang bilang bahwa di Roma, terutama di area Metro, tidak aman alias rawan copet (well, saya cenderung setuju jika dibandingkan dengan Wellington). Saya melihat sendiri seorang ibu-ibu akan menjadi korban pencopetan saat kereta berhenti di suatu terminal, tapi untungnya ibu tsb sadar dan sigap untuk mengamankan dompetnya. Si pencopet pun kabur dari kereta. Sejak saat itu, saya ‘terpaksa’ menaikkan awareness terhadap barang-barang bawaan saya di Roma, yang sebelum ini levelnya jauh menurun selama di Wellington.

Setiba di terminal Metro di dekat hostel, langsung terasa perut keroncongan dan mata lelah. Saatnya makan €3.5 paket pizza + softdrink dan lanjut tidur. Anyway, mengenai biaya makan, ≤€10 per hari sudah sangat cukup bagi saya untuk menu makanan standar (e.g. Pizza, Bread, Milk, etc).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s