Jalan-Jalan di Italia (Part 2) – Ancient Rome


Sabtu, 3 Mei 2014

Perjalanan di hari tersebut mungkin merupakan perjalanan terbaik selama di Italia, bagi saya yang memang menyenangi wisata sejarah. Lebih kurang 16 jam waktu yang saya habiskan untuk mengunjungi berbagai tempat bersejarah di pusat kota Roma. Awalnya saya bingung tempat apa saja yang ingin dikunjungi di Roma dalam 1 hari karena ada puluhan tempat wisata menarik di sana. Dengan berkonsentrasi penuh, akhirnya rencana pilihan jatuh pada 5 tempat saja, yang kira-kira saya bakal menyesal kalau tidak dikunjungi. Namun pada kenyataannya saya berhasil mengujungi 9 tempat.

Rute perjalanan yang saya tempuh digambarkan dengan garis berwarna hitam pada peta di bawah ini:

rome_city_map_annotated

Dari hostel tempat saya menginap, saya naik MRT dari terminal Bologna menuju ke Colossoe. Dimulailah salah satu wisata terbaik yang pernah saya alami…

Colosseo

Tiba tepat di depan gerbang masuk Colosseo (yang nama aslinya adalah Amphitheatrum Flavium) sekitar jam 9am, terlihat para wisatawan sudah memadati area Colosseo. Antrean di loket pembelian tiket sudah sangat panjang, belum lagi antrean di pintu masuk sesudah membeli tiket. Untungnya saya sudah memiliki Roma Pass sehingga ‘hanya’ perlu mengantre di antrean selanjutnya.

Setelah berhasil melewati antrean, tampaklah pemandangan sebenarnya dari ampiteater terbesar di dunia sejak zaman sebelum masehi ini, yang pembangunannya menghabiskan waktu sekitar 10 tahun. Bangunan ini konon digunakan sebagai “bangunan serba guna” untuk berbagai pertunjukkan seperti kontes gladiator, naumachia (semacam hiburan masal yang ber-plot “perang laut”), pidato kenegaraan, dan berbagai drama. Langsung terbayanglah suasana berbagai film kolosal yang pernah saya tonton sebelumnya.

Selain dipakai untuk tempat pertunjukan olahraga ekstrim & drama, saya pun menemukan berbagai situs dan peninggalan yang ditengarai sebagai pusat perbelanjaan dan board games. Terkesan bahwa tempat ini juga sekaligus sebagai recreation center-nya masyarakat Romawi Kuno. Saya membayangkan Colosseo semacam gabungan antara Stadion Gelora Bung Karno dan mall. Bedanya adalah mungkin setiap kali menonton pertunjukan olahraga kita bakal menyaksikan korban jiwa.

Setelah lebih kurang 2.5 jam menikmati Colosseo, saya menuju salah satu “komplek” pemukiman masyarakat Romawi kuno yang tidak jauh dari Colosseo, yaitu bukit Palatino.

Bukit Palatino, Foro Romano, dan Bukit Capitoline

Kota kuno Roma terdiri dari 7 bukit yang dinaungi oleh Servian Wall. Salah satu bukitnya yaitu bukit Palatino, merupakan tempat yang pernah menjadi salah satu pemukiman tertua di kota Roma. Beberapa penemuan mengindikasikan bahwa telah ada kehidupan masyarakat di sana sejak sekitar tahun 1000 S.M. Terdapat berbagai mitos yang berkaitan dengan bukit ini berdasarkan mitologi Roma, antara lain cerita tentang Romulus dan Remus dan pertarungan antara Hercules dengan Cacus.

Secara umum area bukit Palatino ini cukup luas. Peninggalan-peninggalan yang masih terlihat di sana yaitu berupa rumah-rumah besar, kuil, istana, stadium, gua, tempat pemandian, dan sebagainya sebagaimana layaknya kota kecil. Di sana jugalah tempat yang dipercayai sebagai tempat kelahiran kaisar pertama Roma, Augustus, di salah satu rumah yang saat ini dinamakan Palatine House. Tidak hanya peninggalan-peninggalan arkeologis, pemandangan alam area bukit Palatino juga sangat indah.

Turun sedikit dari bukit Palatino, saya menemukan Foro Romano (Roman Forum), area yang dianggap sebagai tempat pertemuan umum untuk upacara kenegeraan dan kepercayaan, pidato, rapat senat, pengadilan, hingga sebagai pasar. Di sanalah pusat pemerintahan kerajaan Romawi pernah dilangsungkan, ditandai dengan adanya peninggalan bangunan-bangunan bekas pemerintahan, monumen berserajah, patung-patung raja & pahlawan Roma, dan istana-istana raja.

Saya pun terpana dengan kemegahan dan keindahan arsitektur Roma di wilayah ini, mengingat bahwa sebagian bangunan-bangunan tersebut dibangun pada zaman sebelum masehi. ‘Keangkuhan’ adalah satu kata yang cukup mewakili apa yang saya rasakan tentang kerajaan superpower dunia ini ketika berada di sekeliling peninggalan tersebut. Mereka berusaha membangun gedung sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya demi menunjukkan kedigdayaan mereka. Tidak lupa saya istirahat sejenak dan menikmati cemilan Pizza sambil membayangkan kaisar Augustus berpidato dengan angkuhnya di depan publik.

Setelah melalui pintu keluar Foro Romano, perjalananan kembali menanjak dan ternyata saya mencapai bukit yang lainnya, yang bernama bukit Capitoline. Berbeda dengan wilayah bukit Palatino, tidak banyak peninggalan Romawi kuno yang tersisa di Capitoline. Di sini saya diajak untuk maju ke zaman Medieval dengan menyaksikan area yang bernama Piazza del Campidoglio. Piazza ini dirancang oleh Michelangelo pada tahun 1536-1546. Perlu diketahui bahwa kata capitol dalam bahasa Inggris yang mendeskripsikan bangunan atau kompleks bangunan pusat pemerintahan negara diadopsi dari Capitoline yang juga merupakan pusat pemerintahan Roma pada zaman Medieval.

Tidak terasa waktu telah menunjukkan sekitar jam 3:30 pm. Rencana perjalanan selanjutnya adalah menuju kuil Pantheon.

Il Vittoriano

Namun, dalam perjalanan menuju Pantheon, saya berhenti sejenak di Piazza Venezia mengagumi monumen termegah yang pernah saya lihat, yaitu  Monumento Nazionale a Vittorio Emanuele II atau Il Vittoriano, yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar perjalanan saya. Monumen ini mulai dibangun tahun 1911 untuk menghormati Victor Emmanuel II, raja pertama dari Italia bersatu. Pembangunannya di awal ternyata dianggap kontroversial karena menghancurkan peninggalan-peninggalan Medieval di bukit Capitoline serta terlalu besar dan mencolok untuk hanya sebuah monumen.

Karena penasaran akhirnya saya pun memasuki wilayah monumen, diawali dengan menaiki anak tangga yang mirip dengan Spanish Steps. Tepat setelah anak tangga berakhir, saya menemukan makam 2 orang prajurit yang tak diketahui namanya, dikawal oleh 2 orang prajurit manusia sungguhan yang seakan-akan tidak kenal lelah untuk menjadi patung. Tidak terlalu lama saya berada di area monumen karena tidak banyak yang dapat saya nikmati di sana. Sebenarnya kita bisa memasuki hingga ke dalam gedung monumen namun perlu membeli tiket tambahan karena tidak tercakup pada Roma Pass.

Pantheon

Perjalanan berikutnya adalah menuju kuil Pantheon, yang menghabiskan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki dari monumen Il Vittoriano. Kuil ini dahulu digunakan sebagai tempat penyembahan kepada para dewa, namun sejak abad ke-7 dijadikan sebagai gereja katolik hingga sekarang. Warna arsitektur ala Yunani sangat kentara terlihat di bangunan ini. Selain sebagai tempat peribadatan, Pantheon juga sebagai makam para raja, ratu, dan seniman. Salah satu seniman ternama yang dimakamkan di sana adalah Raphael. Bagi yang mengikuti novel atau film “Angels & Demons”  karya Dan Brown, Pantheon merupakan salah satu tempat yang dijadikan plot untuk memecahkan suatu misteri.

Di gerbang masuk Pantheon tertulis inskripsi yang sangat terkenal: M·AGRIPPA·L·F·COS·TERTIVM·FECIT, yang berarti “Marcus Agrippa, son of Lucius, made this building when consul for the third time“. Dari tulisan tersebut dipercayai bahwa pembangun Pantheon adalah Marcus Agrippa pada tahun 27 S.M. Namun, dari hasil penggalian terakhir disimpulkan bahwa Pantheon yang terlihat sekarang ini merupakan rekonstruksi yang dilakukan (kecuali bagian depan) pada zaman pemerintahan kaisar Hadrian tahun 125 M.

Bagian bangunan lain yang cukup terkenal adalah kubah berdiameter 43.4 m yang memiliki lubang dibagian tengahnya. Lubang ini juga disebut dengan istilah oculus (“eye”) yang memungkinkan sinar matahari dan air hujan masuk ke dalam. Sayang sekali kuba ini lupa saya ambil gambarnya.

Di area depan Pantheon, terdapat sebuah bundaran yang bernama Piazza della Rotonda yang ditengah-tengahnya terdapat air mancur (Fontana del  Pantheon) dengan obelisk Mesir yang menjulang tinggi. Banyak sekali para turis yang duduk di area Piazza sambil menikmati street entertainers yang cukup unik bagi saya, terutama pertunjukan-pertunjukan sulapnya.

Selanjutnya saya berjalan kaki menuju sebuah negara terkecil di dunia, yang berada di dalam kota Roma, the one and only, Vatican City. Di Vatican saya singgah di 2 tempat memukau yaitu Castel Sant’Angelo dan St. Peter Basillica, yang ceritanya akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s