Jalan-Jalan di Italia (Part 3) – Vatican City


Masih tentang cerita di Roma, dari Pantheon saya melanjutkan perjalanan berjalan kaki ke Vatican City. Kaki pegal-pegal dan perut lapar membuat saya berhenti sejenak di area yang tak kalah menariknya, bernama Piazza Navona. Di sana ramai sekali dengan restoran-restoran, stand-stand makanan, pedagang kaki lima, dan musisi jalanan. Saya jadi teringat Gazibu di Bandung, bedanya ini semacam ‘pasar sabtu sore’. Saya pun akhirnya bersantai dulu di restoran Pizza sambil menikmati musik jazz yang dibawakan oleh para musisi jalanan.

Setelah cukup puas ngaso di Piazza Navona dan memuilhkan stamina yang sudah cukup terkuras, saya lanjut berjalan ke Vatican City yang kira-kira ditempuh dalam waktu 20 menit. Sesaat sebelum memasuki kota Vatican, saya mesti menyeberangi sebuah sungai yang memisahkan Roma dan Vatican, bernama Tiber. Jangan khawatir, Anda tidak perlu menyeberangi sungai tsb dengan berenang karena sudah ada tersedia beberapa jembatan. Saya pun disambut dengan jembatan Ponte Sant’Angelo yang langsung terhubung ke Castel Sant’Angelo.

Castel Sant’Angelo

Sebenarnya tempat ini awalnya tidak masuk dalam list kunjungan saya. Namun saya terpukau dengan kemegahan dan arsitektur istana ini sehingga berhasil ‘memaksa’ saya untuk mengunjungi ini terlebih dahulu. Memasuki ke dalam area istana, suasana di dalam menurut saya lebih ‘wow !’ lagi. Istana ini memiliki rute spiral hingga ke puncak, maksudnya, rutenya seperti obat nyamuk bakar yang tengahnya di tarik ke atas (mudah-mudahan penjelasan terakhir tidak membuat tambah bingung :D).

Selama berjalan di dalam istana, kesan saya adalah seperti berjalan di lorong temaram tiada ujung. Di dinding lorong terdapat obor-obor yang berhasil membuat lorong tidak sepenuhnya gelap gulita. Saya serasa seperti pangeran yang mencoba menyelamatkan tuan putri yang disekap oleh raja (baca: pangeran = mario bross, raja = monster jahat). Sayangnya saya lupa mengambil foto-foto suasana selama di dalam istana. Sesampainya di puncak istana, di sini saya benar-benar menikmati pemandangan birdeye Roma dan Vatican. Sulit melukiskan apa yang saya rasakan ketika berada di puncak sana. Kalau saya coba tuliskan di sini dikhawatirkan akan mengurangi sensasi yang benar-benar saya rasakan (agak berlebihan sih ini).

St. Peter’s Basilica

Akhirnya tiba juga di St. Peter’s Basilica, salah satu gereja terbesar di dunia dan tempat tersuci bagi umat Katolik, sebagaimana Ka’bah bagi umat Islam. Tempat di mana Pope, pemimpin gereja Katolik tertinggi, menjalankan tugasnya sehari-hari. Arsitektur gereja yang tampak pada saat ini dibuat pada masa akhir Renaissance, menggantikan bangunan sebelumnya yang dibangun pada abad ke-4.

St. Peter’s Basilica memiliki area Piazza yang sangat luas, dikenal dengan nama St. Peter’s Square. Di tengah Piazza ini terdapat tugu (obelisk) yang ternyata jauh lebih kuno dibandingkan gerejanya, yang konon sebelumnya milik Mesir kuno. Tugu tersebut sempat dipindahkan 3 kali hingga akhirnya berada di Roma. Di puncak tugu tersebut sempat ada bola emas yang pada zaman pertengahan dipercayai sebagai tempat abu Julius Caesar disimpan.

Saya menghabiskan waktu duduk di St. Peter’s Square tepat di sebelah obelisk bersejarah tersebut sambil menikmati es krim. Bagi saya, duduk di St. Peter’s Square dan mengagumi bangunan Basilica seperti meditasi. Sangat menenangkan. Untung saja tidak sampai tertidur.

Saya juga iseng-iseng berjalan mendekati pintu depan Basilica dari arah samping. Tentu saja pengunjung biasa tidak bisa masuk ke dalam St. Peter’s Basilica. Di sana berdiri penjaga-penjaga tinggi besar yang dikenal dengan sebutan Swiss Guard, yang memang benar-benar orang Swiss dengan persyaratan tertentu. Pasukan penjaga ini telah ditugaskan untuk mengawal Pope sejak tahun 1506.

Minggu depannya ketika saya mengunjungi Roma kembali setelah dari Florence, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi St. Peter’s Basilica dan sekalian tur ke Museum Vatican. Namun pada kunjungan yang kedua, St. Peter’s Square sesak dan padat sekali. Ternyata ada acara pertemuan antara Pope Francis dengan para pelajar danguru seluruh Italia.

Fontana De Trevi

Dari Vatican, saya agak bingung gimana cara yang paling effisien balik lagi ke Roma. Akhirnya saya pilih rute jalan kaki kurang lebih sama dengan rute pergi. Tempat terakhir yang saya kunjungi sebelum benar-benar pulang ke penginapan adalah Fontana De Trevi, salah satu air mancur paling terkenal dan romantis di dunia. Mirip-mirip dengan suasana di Spanish Step, pengunjung kebanyakan dari kalangan ABG.

Salah satu ‘seremoni’ yang terkenal di air mancur ini adalah melempar koin ke air mancur, yang berarti jaminan akan kembali ke Roma lagi suatu saat ini. Diperkirakan sekitar EUR3,000 per hari dapat dikumpulkan dari Fontana De Trevi. Hampir semua pengunjung yang saya lihat melakukan seremoni ini. Saya sih nggak karena saya pikir mending buat beli roti dan susu untuk makan malam.😀


Tiba di penginapan waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Secara keseluruhan saya puas sekali dengan tur 1 hari di kota Roma ini. Semoga suatu saat nanti bisa kembali lagi ke sini. Kisah berikutnya adalah mengenai pengalaman saya selama di Florence yang juga tidak kalah serunya.

2 thoughts on “Jalan-Jalan di Italia (Part 3) – Vatican City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s