Bagaimana menumbuhkan passion dalam menulis?


Baiklah ! Sudah waktunya untuk mengakhiri “paceklik” menulis.

Judul di atas bukanlah konotasi yang akan memberikan pembacanya tips-tips untuk menulis, tapi denotasi yaitu saya benar-benar bertanya bagaimana caranya menumbuhkan passion tsb :D. Sebenarnya udah lama sekali ingin selalu konsisten menulis. Tapi tampaknya masih belum ketemu passion dalam menulis sehingga semangatnya naik turun. Beda sekali semangatnya ketika saya mengerjakan beberapa hal berikut: programming stuffs, main musik, membaca buku baru, main sepak bola, mengajar. Pengen sekali semangat untuk menulis, at least, sama dengan semangat dalam mengerjakan hal-hal tersebut.

Continue reading

Advertisements

Pemanasan


Seperti halnya di olahraga, pemanasan sangat dianjurkan sebelum memulai olahraga agar tidak cedera. Berhubung sudah lama gak olahraga menulis dan dikhawatirkan bakal cedera jari dan otak (lebay bgt), jadi tulisan kali ini santai dulu aja, dimulai dengan mikirin kandidat topik yang akan ditulis berikutnya:

  • pengalaman jadi ayah untuk pertama kalinya
  • persiapan melanjutkan S3 di New Zealand
  • cerita-cerita singkat terkait kegiatan akademik

Yang mana dulu ya yang mau ditulis? hmmm….

Master lagi atau PhD ?


Karena disibukkan dengan aktifitas mengajar dan berbagai pengembangan software, urusan yang seharusnya jadi my next goal (apply beasiswa untuk kuliah PhD di luar negeri) jadi terbengkalai. Tahun lalu saya sudah sempat sampai ke tahap wawancara di 2 program beasiswa, yaitu U.S. Fulbright Scholarship dan Monbusho. Tapi setelah itu alhamdulillah sampai sekarang belum ada kabar lagi yang berarti saya artikan tidak lolos 😀

Sekadar menerka-nerka mengapa saya belum lolos, kemungkinan besar saya kurangnya di wawancara lisan (tidak terlalu fasih berbicara bahasa inggris) dan masih kurang publikasi paper ilmiah baik skala nasional maupun internasional. Untuk beberapa program PhD yang saya coba apply, kebanyakan sangat mempertimbangkan track record penelitian. Tidak hanya diminta untuk menuliskan track record penelitian pada form aplikasi, di wawancara pun saya selalu ditanya mengenai pengalaman penelitian. Sementara, semasa 5 tahun kuliah S1 + S2, saya tidak pernah memasukkan paper penelitian ke jurnal/prosiding. Barulah setelah selesai sekolah saya mulai rajin meneliti, menulis paper, dan mengikuti seminar/konferensi (ga rajin-rajin amat juga sih). Kalau dipikir-pikir lagi, ada ruginya juga selesai kuliah cepat-cepat  😀 Kuliah hanya terbatas pada kejar tayang mengikuti perkuliahan dan mengerjakan skripsi/tesis. Tidak terlalu banyak waktu yang dimanfaatkan untuk melakukan penelitian dan menulis (mudah-mudahan ini hanyalah sekadar excuse saya pribadi).

Berhubung sulitnya memenuhi kriteria untuk mendapatkan beasiswa program PhD di luar negeri, saya berpikir apakah sebaiknya ambil kuliah Master lagi aja ya? Saya pikir mungkin kans-nya akan lebih besar untuk mendapatkan beasiswa dibandingkan program PhD. Nanti selama kuliah Master, saya berencana  pol pol an bakal konsentrasi untuk meneliti dan menulis. Semakin banyak hasil penelitian, maka akan semakin mudah nantinya untuk melanjutkan ke PhD (sebenarnya inginnya sih yang penting segera keluar sejenak dulu dari negeri yang tercinta ini, hehe). Tentunya kuliah master di luar negeri akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dibandingkan kuliah di ITB dulu. Tapi, asyik juga sih kalau bisa langsung kuliah PhD.

Duuh, galau nih, hehe.. 😀 Any sugestion?

 

Pemecah Kebekuan


Oopss.. hampir 1 bulan blog ini menganggur. Ternyata susah ya untuk menulis secara konsisten. Lagi-lagi posting ini dibuat untuk “memecah kebekuan” aja. Mudah-mudahan bisa kembali konsisten menulis 😀

Kaleidoskop 2011


Sebenarnya sejak akhir tahun 2011 lalu saya dah pengen nulis ini. Tapi berhubung cuaca tidak memungkinkan (* loh apa hubungannya?? *), karena rumah kami kebanjiran & butuh sekitar 1 minggu utk beres-beres, jadinya agak susah cari-cari waktu untuk nge-blog.

Tahun 2011 buat saya adalah tahun transformasi. Dapat dikatakan saya memulai menjalani fase baru kehidupan. Berikut ini saya coba rangkum kejadian-kejadian penting buat saya selama tahun 2011 :

  1. Awal bulan Januari saya ‘resmi’ pindah rumah dan menetap ke kediaman baru, yaitu Jl. Sarimas II no. 33 Kec. Arcamanik, Bandung. Sebelumnya saya hidup nomaden (kayak manusia purba gitu), sebelumnya saya tinggal di buah batu.
  2. Awal bulan Februari kakak tertua saya menikah di Cianjur.
  3. Awal bulan Maret saya pergi ke Papua, tepatnya ke PT. Freeport Indonesia, diundang untuk bermain musik. Untung aja waktu itu konflik di Freeport belum mulai..
  4. Ini yang paling paling penting, tanggal 2 April saya menikahi teman saya 1 jurusan & angkatan kuliah, yaitu @Twindania Namiesyva :D. Kabar pernikahannya pun cukup berhasil untuk mengagetkan banyak pihak :p Oia, di bulan april ini juga saya dapat ruangan, meja, & kursi dosen di Unpar *ini agak ga penting :p*
  5. Masih di bulan April, saya bersama istri mengalami banjir pertama di kediaman kami.
  6. Di bulan Mei istri saya mengalami keguguran kandungan yang usianya diperkirakan baru 2 minggu.
  7. Bulan Juni saya berangkat ke Cepu bersama tim riset Real-Time Oil Monitoring di ITB
  8. Bulan Agustus saya menjalankan ibadah puasa pertama bersama istri. Di bulan Agustus ini pula istri saya kembali mengandung.
  9. Bulan September saya pergi ke Bangkok & Pattaya bersama the Pixel People Project team.
  10. Sepanjang bulan Oktober-Desember hampir tidak ada yang terlalu spesial. Cuma kesibukan pekerjaan semakin bertambah. Seringkali pergi ‘ngantor’ di Jkt seminggu sekali. Tawaran main piano tiap weekend jg semakin banyak.
  11. Di akhir bulan Desember, kediaman kami mengalami banjir part 2 dan akhirnya harus mengungsi selama 1 minggu di rumah saudara.

Demikian kejadian-kejadian penting yang saya alami selama tahun 2011. Tidak sabar menunggu rencana-rencana indah berikutnya dari Tuhan YME 🙂

Makan tanpa nasi


Tadi siang saya bersama istri makan siang di suatu cafe daerah komplek Arcamanik. Cafe tersebut sekaligus merupakan tempat cuci motor, cuci helm, taman bacaan, madrasah diniyah (banyak banget ya fungsinya :D).  Kapan-kapan nanti saya akan coba nge-blog detail mengenai cafe tersebut yang “kesan pertama menandatangi tempat tersebut begitu menggoda”, hehe..

Selagi menunggu makanan datang, saya melihat-lihat taman bacaan dan mengambil salah satu buku bertema seputar nutrisi, gizi, diet, dan food combining (lupa judulnya apa). Membaca sepintas isi buku tersebut, saya mendapatkan informasi bahwa menurut penulis banyak salah kaprah yang dipahami oleh masyarakat secara luas mengenai gizi dan diet. Salah satu contohnya mengenai menu makanan 4 sehat 5 sempurna yang sebenarnya tidak begitu seimbang kandungan nutrisinya. Menurutnya, menu 4 sehat 5 sempurna ala Indonesia yang selama ini kita ketahui masih terlalu bamyak kandungan lemak. Selain itu mengenai beras putih, menurutnya pula bahwa beras putih merupakan sumber hidrat arang yang relatif lama dicerna serta masih kalah kandungan gizi dibandingkan jagung, beras merah, kentang, dan beberapa buah-buahan. Beras putih hanya sekadar bikin kenyang namun kurang asupan gizi.  Hal lainnya yang juga sempat saya baca adalah mengenai perbandingan kombinasi antar makanan yang baik dengan yang.buruk.

Sedikit terpengaruh dengan bacaan tersebut, akhirnya malam tadi saya ngga makan nasi putih. Sebenarnya sebelumnya saya juga pernah mendengar mengenai anjuran untuk mengganti nasi dengan jagung atau beras merah, dan saya pernah mencobanya untuk beberapa saat tapi tidak bertahan lama balik lagi ke nasi putih, hehe… Sekarang saya coba kembali untuk meninggalkan ‘ketergantungan’ akan nasi putih. Jadinya, menu makan malam tadi adalah 1 ikan, 1 perkedel kentang, 1 sayur tempe, 1 martabak mie kecil, 1 jus apel,dan 1 pisang.

Mungkin kombinasi makanannya belum sepenuhnya sesuai dengan yang disarankan pada buku tersebut. Tapi paling tidak, nasi putih sudah bisa disubstitusi dengan perkedel dan buah-buahan. Semoga ngga kelaperan sampai besok pagi 😉

Hari Terakhir di Bandung


Uppsss.. bukan beneran hari terakhir dan selamanya meninggalkan Bandung :p Tapi hari terakhir di Bandung di bulan Ramadhan.

Persiapan kuliah, buat slide, buat modul praktikum, coding, proyek riset, bisnis, pekerjaan musik yang udah jadi hiruk pikuk kegiatan sehari-hari akhirnya bisa diistirahatkan dulu, paling tidak selama 1 minggu ke depan. Saya dan istri akan terbang ke kampung halaman saya, Palembang, besok. Semoga bisa lebih konsentrasi memanfaatkan sisa waktu beribadah pada bulan Ramadhan ini yang selama ini banyak tersita oleh kegiatan-kegiatan duniawi 😐

Maafkan hamba-Mu yang telah mengesampingkan kesempatan-Mu selama ini 😐